Komisioner Kompolnas Mochammad Choirul Anam mengungkapkan, hasil pemeriksaan awal menunjukkan dugaan kuat bahwa ketiga korban mengalami penganiayaan sebelum meninggal dunia.
Dugaan tersebut didasarkan pada hasil autopsi yang menemukan sejumlah luka akibat benturan benda tumpul, retak tulang, hingga cedera pada tengkorak serta adanya resapan darah di bawah jaringan kulit yang mengindikasikan korban masih hidup ketika mengalami kekerasan.
Kompolnas juga menyebut telah mengidentifikasi sedikitnya lima titik lokasi yang diduga berkaitan dengan rangkaian peristiwa tersebut.
Temuan itu memperkuat dugaan bahwa aksi kekerasan tidak hanya terjadi di lokasi penggerebekan, tetapi berlangsung di beberapa titik sebelum jasad para korban akhirnya ditemukan di aliran sungai.
Sementara itu, Kapolda Kalteng mengungkapkan penyidik telah mengamankan sejumlah saksi yang memberikan keterangan penting. Salah satu saksi menyebut ada pelaku yang mengaku telah “menghabisi” anggota Polri setelah kembali ke rumahnya.
Keterangan tersebut kini menjadi bagian dari alat bukti yang terus didalami penyidik.
Kompolnas menilai kelompok pelaku diduga merupakan jaringan peredaran narkotika yang terorganisir dan memiliki hubungan kekeluargaan.
Sejumlah pelaku utama disebut merupakan residivis dengan rekam jejak kriminal yang cukup panjang.
Hingga kini, pihak Polda Kalimantan Tengah, dan Polres Katingan di BackUp langsung dari Mabes Polri, untuk masih terus memburu seluruh pelaku yang diduga terlibat dalam Tragedi Berdarah Desa Tumbang Kalemei.
Para pelaku yang terlibat dalam penyerangan terhadap personel Polri tersebut tetap di buru, sekaligus mengusut tuntas kasus yang menjadi perhatian nasional tersebut.(Van)











