Ada satu kesalahan cara berpikir yang masih sering saya temui di dunia kerja.
Banyak orang berlomba-lomba menjadi sosok yang paling menonjol, paling sibuk, paling banyak bekerja, atau paling merasa dirinya paling berjasa terhadap kemajuan sebuah perusahaan.
Padahal, jika direnungkan lebih dalam, sesuatu yang besar tidak pernah lahir karena satu orang yang hebat. Perusahaan besar lahir karena sekelompok orang yang mampu bekerja sebagai satu tim.
Tidak ada perusahaan yang berdiri kokoh hanya karena seorang direktur yang cerdas, seorang manajer yang hebat, atau seorang karyawan yang paling rajin.
Sebab sehebat apa pun seseorang, ia tetap memiliki keterbatasan. Ia membutuhkan orang lain untuk melengkapi kekurangan yang dimilikinya.
Bagi saya, ukuran keberhasilan bukanlah siapa yang paling bersinar dalamnya, melainkan bagaimana seluruh anggotanya mampu bergerak ke arah tujuan yang sama.
Sering kali kita salah mengartikan arti penting sebuah prestasi. Ada yang bangga karena merasa dirinya paling sering lembur.
Ada yang merasa paling berhak mendapatkan penghargaan karena pekerjaannya paling banyak. Bahkan ada yang diam-diam berharap rekan kerjanya gagal agar dirinya terlihat lebih menonjol.
Budaya seperti ini sebenarnya sangat berbahaya. Ketika setiap orang sibuk membangun panggungnya sendiri, perlahan perusahaan kehilangan kekuatan utamanya, yaitu kebersamaan.
Dalam sebuah tim, setiap orang memiliki peran yang berbeda. Ada yang berada di garis depan menghadapi klien, ada yang mengatur administrasi, ada yang memastikan operasional berjalan lancar, ada pula yang bekerja di balik layar tanpa pernah mendapat sorotan. Namun, seluruh peran tersebut sama pentingnya.
Coba bayangkan sebuah pertandingan sepak bola. Seorang penyerang mungkin mencetak gol dan menjadi pahlawan di mata penonton.
Namun tanpa gelandang yang mengatur permainan, bek yang menjaga pertahanan, hingga kiper yang menyelamatkan gawang, gol itu mungkin tidak pernah tercipta. Yang dipuji memang satu orang, tetapi kemenangan adalah hasil kerja seluruh tim.
Saya percaya bahwa perusahaan yang sehat bukanlah perusahaan yang dipenuhi orang-orang yang ingin menjadi pahlawan. Sebaliknya, perusahaan yang kuat adalah tempat di mana setiap orang bersedia saling membantu, saling menguatkan, dan saling menghargai.
Sayangnya, ego sering menjadi musuh terbesar dalam kerja sama. Ketika seseorang mulai merasa dirinya paling penting, komunikasi menjadi sulit.
Kritik dianggap serangan, masukan dipandang sebagai ancaman, dan keberhasilan rekan kerja justru terasa seperti kekalahan pribadi.
