Opini  

Ketika Perang Karbon Indonesia Berhenti Jadi Trailer dan Akhirnya Masuk Layar Lebar

Jajaran menteri dan pejabat negara secara resmi menekan tombol peluncuran sistem pendataan unit karbon emisi nasional di Ballroom Jakarta Theater. (Dok. HO/Faktanasional)

Terakhir, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menutup rangkaian sambutan dengan gaya khasnya yang ringan, cair, tetapi sangat politis. Ia mengaku tugas kementeriannya adalah membongkar hambatan. Jika nanti ada kementerian atau pemerintah daerah yang menghambat implementasi, ia siap membawa persoalan itu ke tingkat koordinasi, bahkan bila perlu sampai kepada Presiden. Ruangan tertawa ketika beliau menyampaikan candaan itu. Namun semua memahami bahwa humor tersebut lahir dari pengalaman panjang menghadapi birokrasi Indonesia.

Yang paling menarik justru pengakuannya bahwa transaksi karbon sebenarnya sudah mulai berjalan. Nilainya memang belum besar. Tetapi dalam dunia investasi, transaksi pertama jauh lebih penting daripada transaksi terbesar. Ia menjadi bukti bahwa sistem hidup. Bahwa SRUK telah keluar dari ruang rapat menuju ruang praktik.

Kemudian tibalah prosesi peluncuran. Para menteri, pimpinan OJK, Utusan Khusus Presiden, para duta besar negara sahabat, kementerian, lembaga, pelaku usaha, serta mitra pembangunan berdiri bersama menekan simbol peluncuran SRUK. Kilatan kamera memenuhi Ballroom Jakarta Theater. Foto bersama menjadi penutup resmi acara. Namun sesungguhnya foto itu bukan akhir cerita. Ia hanyalah halaman pertama dari pekerjaan panjang yang baru dimulai.

Saat melangkah keluar gedung, saya kembali mengingat secangkir kopi liberika rawa gambut dari Pontianak yang kami nikmati sebelum acara dimulai. Kopi itu tumbuh perlahan. Ia tidak bisa dipaksa matang dalam semalam. Sama seperti kepercayaan terhadap tata kelola sumber daya alam. Kepercayaan tidak lahir dari pidato yang panjang, tetapi dari konsistensi menjalankan janji.

Barangkali di situlah pelajaran terbesar dari peluncuran SRUK. Dalam politik pengelolaan sumber daya alam, kemenangan bukan terjadi ketika regulasi diterbitkan. Kemenangan juga bukan ketika panggung dipenuhi tepuk tangan. Kemenangan baru benar-benar lahir ketika masyarakat di tapak memperoleh manfaat, hutan tetap berdiri, karbon tercatat dengan jujur, dan negara tidak lagi sibuk menjual mimpi, melainkan membuktikannya.

Karena pada akhirnya, rakyat tidak pernah hidup dari slogan.

Rakyat hidup dari implementasi.

Oleh: Gusti Hardiansyah

(Guru Besar Universitas Tanjungpura, Ketua ICMI Orwil Kalbar)

Exit mobile version