Hukum  

Haidar Alwi: Financial Genealogy Setiap Lembar Dolar Kasus Jampidsus Febrie Harus Ditelisik

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET – Cendekiawan Ir. R Haidar Alwi, mendesak agar fokus penyidikan dugaan korupsi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang menyeret mantan Jampidsus Febrie Adriansyah tidak berhenti pada kesimpulan bahwa jutaan dolar yang disita merupakan uang asli.

Haidar mengatakan, keaslian fisik hanya membuktikan bahwa benda tersebut merupakan alat pembayaran yang sah dan memiliki nilai nominal sebagaimana tercantum.

“Konstruksi pidana yang akan menentukan kekuatan perkara di pengadilan justru terletak pada financial genealogy (silsilah keuangan) setiap lembar dolar, mulai dari asal uang, waktu perolehan, jalur perpindahan, pihak yang menguasai, orang yang mengangkut, hingga penerima manfaat akhirnya,” tandas Haidar Alwi dalam catatan yang diterima redaksi, Selasa (14/7/2026).

Dalam rangkaian perkara tersebut, penyidik menguasai sedikitnya dua klaster besar dolar Amerika Serikat, yakni US$4.767.300 dari lokasi Sentul dan US$889.965 dari De’Clan.

Total gabungan keduanya mencapai US$5.657.265, belum termasuk dolar dari lokasi lain serta berbagai valuta asing yang ditemukan di Koin Money Changer.

Dengan pecahan tertinggi US$100, jumlah tersebut sedikitnya terdiri atas sekitar 56.575 lembar uang. Mengingat setiap lembar uang kertas Amerika Serikat berbobot kurang lebih satu gram, berat fisik dolar dari dua lokasi itu saja mencapai sekitar 56,6 kilogram, belum termasuk emas seberat 74 kilogram, SGD14.083.800, uang dalam mata uang lain, koper, kemasan, dan sarana penyimpanan yang digunakan.

“Skala fisik dan logistik sebesar itu membuat pemeriksaan konvensional berupa penghitungan nilai keseluruhan dan pengujian beberapa lembar sampel menjadi tidak memadai. Penyidik wajib membangun basis data inventarisasi per lembar, bukan hanya daftar berdasarkan koper, bundel, atau lokasi penemuan,” tukas Haidar.

Detail Identifikasi Suatu Barang Bukti

Setiap lembar harus mempunyai identitas barang bukti yang mencakup nomor penyitaan, posisi spesifik ketika ditemukan, nomor koper, nomor paket, pecahan, nomor seri, tahun emisi, kondisi fisik, pola lipatan, noda, cap, serta kemasan yang menyertainya.

“Seluruh data perlu dilengkapi foto beresolusi tinggi pada kedua sisi uang dan nilai hash digital agar setiap perubahan, penggantian, penghapusan, atau manipulasi data dapat diketahui,” tandas Haidar.

Tanpa inventarisasi sedetail itu, lanjut Haidar, penegak hukum akan menghadapi kesulitan ketika harus membuktikan bahwa uang yang diperiksa ahli, diserahkan dari Polri kepada Kejaksaan Agung, dan dihadirkan di persidangan merupakan uang yang identik dengan barang yang ditemukan saat penggeledahan.

Dalam perkara yang menyentuh pejabat tinggi lembaga penegak hukum, jelas Haidar, rantai penguasaan barang bukti tidak boleh hanya dianggap sebagai urusan administrasi. Ia menjadi fondasi autentisitas dan kredibilitas seluruh konstruksi pembuktian.

Ia mengingatkan, membangun silsilah keuangan bukan berarti penyidik harus mengetahui seluruh pemegang setiap lembar uang sejak pertama kali dicetak oleh Bureau of Engraving and Printing. Uang tunai kerap digunakan untuk memutus jejak audit karena tidak meninggalkan catatan otomatis seperti transfer perbankan.

Namun, uang tunai dalam jumlah jutaan dolar hampir pasti meninggalkan jejak lain, mulai dari formulir penarikan bank, transaksi pembelian valuta asing, kuitansi, rekaman kamera pengawas, catatan perjalanan, komunikasi elektronik, data kendaraan, laporan transaksi tunai, hingga keterangan orang yang melakukan pengangkutan dan penyimpanan.

“Sasaran realistis penyidikan adalah merekonstruksi lembaga atau orang terakhir yang mengeluarkan uang secara tercatat, pihak yang menerima, cara uang dikelompokkan, waktu uang dipindahkan, kendaraan yang digunakan, orang yang memasukkan uang ke lokasi penyimpanan, serta kepentingan ekonomi pihak yang menguasainya,” tegas Haidar.

Menelisik Nomor Seri dan Pita Pengikat

Secara mendetail, Haidar memaparkan nomor seri menjadi salah satu kunci untuk menghubungkan benda fisik dengan transaksi, dokumen, lokasi, perangkat, dan orang.

Nomor seri harus dianalisis sebagai kumpulan data. Penyidik perlu menguji apakah ribuan lembar dolar tersebut mempunyai rentang nomor yang berurutan atau berdekatan, berasal dari tahun seri yang sama, memiliki indikator Federal Reserve yang sama, tersusun dalam pecahan seragam, atau berada dalam ikatan institusional yang memiliki cap dan identitas serupa.

Konsentrasi nomor seri tertentu dapat menjadi indikasi bahwa uang keluar dari satu sumber kas atau beberapa transaksi yang berlangsung dalam jarak waktu berdekatan. Namun, pola tersebut tetap harus dikonfirmasi dengan dokumen perbankan, data money changer, dan bukti transaksi lain karena nomor yang berdekatan belum dengan sendirinya membuktikan siapa pihak yang menarik atau menerima uang.

“Penyidik juga perlu berhati-hati membaca celah nomor seri. Otoritas keuangan Amerika Serikat telah memproduksi sebagian bundel uang dengan nomor yang tidak selalu berurutan. Karena itu, nomor seri yang terputus tidak otomatis menunjukkan bahwa uang telah dicampur, dipindahkan, atau dimanipulasi,” jelasnya.

Lebih lanjut Haidar mengatakan pola serial harus dianalisis bersama dengan pecahan, kondisi uang, tahun emisi, kemasan, pita pengikat, cap lembaga keuangan, dan posisi saat ditemukan.

Dalam konteks pembuktian, pita pengikat uang dapat jauh lebih informatif dibanding lembar dolarnya. Berdasarkan standar pengelolaan kas Federal Reserve, satu ikatan penuh atau strap lazimnya terdiri atas 100 lembar pecahan sejenis.

Pita tersebut dapat memuat nilai, tanggal verifikasi, kode lembaga, cap bank, stiker mesin, atau paraf petugas yang melakukan penghitungan. Satu pita yang masih utuh dapat menjadi pintu masuk untuk menelusuri bank, cabang, waktu pengeluaran uang, dan orang yang terlibat dalam transaksi.

Jika seluruh uang US$4.767.300 dari Sentul berbentuk pecahan US$100, jumlah itu setara dengan 476 ikatan penuh masing-masing senilai US$10.000 dan sisa 73 lembar. Penyidik harus menjelaskan apakah bentuk fisiknya mendekati pola tersebut atau ditemukan dalam paket-paket dengan nilai berbeda.

“Perbedaan jumlah dalam setiap paket dapat menunjukkan bahwa uang berasal dari beberapa episode penerimaan, telah dipindahkan sebagian, atau sengaja dikelompokkan berdasarkan tujuan tertentu. Seluruh kemungkinan itu harus diuji melalui bukti dan tidak boleh disimpulkan hanya berdasarkan tampilan fisik,” ungkap Haidar.

Mendalami Keganjilan dan Komposisi Pecahan Uang

Haidar kemudian mengungkap petunjuk penting pada angka US$889.965 yang ditemukan di De’Clan. Nilai tersebut tidak bulat dan tidak mungkin seluruhnya terdiri atas pecahan US$100 karena dibutuhkan campuran pecahan kecil untuk membentuk sisa US$65.

Komposisi ganjil itu harus diperiksa secara khusus untuk mengetahui apakah uang merupakan sisa dari nilai awal yang lebih besar, hasil penukaran berdasarkan kurs tertentu, akumulasi penerimaan bertahap, atau uang yang telah dikurangi sebelum ditemukan.

Penyidik harus membuka komposisi pecahan, jumlah bundel, nilai setiap paket, lokasi pecahan kecil, serta kesesuaiannya dengan dokumen transaksi. Apabila ditemukan catatan digital, pesan elektronik, kuitansi, atau data mesin penghitung yang mencantumkan angka mendekati US$890 ribu, selisih kecil sekalipun dapat mempunyai arti penting.

“Selisih tersebut dapat menunjukkan biaya, pengeluaran, pengambilan sebagian uang, atau kesalahan penghitungan yang terjadi setelah uang pertama kali ditempatkan,” kata Haidar.

Pengembangan penyidikan paling menentukan terletak pada pencocokan seluruh nomor seri, pola pecahan, pita pengikat, cap, label mesin, dan tulisan tangan dari Sentul, De’Clan, serta Koin Money Changer.

“Apabila ditemukan rentang nomor seri yang berdekatan atau pola kemasan yang identik, temuan itu dapat menjadi indikasi kuat bahwa uang di lokasi berbeda berasal dari satu sumber atau rangkaian distribusi yang sama,” ungkap Haidar.

Mencari Petunjuk dari Sumber Penerbitan Uang

Exit mobile version