JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET — Wakil Menteri Luar Negeri RI Anis Matta menilai dunia membutuhkan narasi baru dalam hubungan antarbangsa untuk meredam islamofobia, prasangka antaragama, serta pemanfaatan identitas keagamaan sebagai instrumen konflik geopolitik.
Hal itu disampaikan Anis saat menjadi pembicara dalam Sajid Diplomat Talk yang diselenggarakan Serikat Jurnalis Muslim Indonesia (Sajid) di Gedung Konstitusi Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Kamis (16/7/2026). Kegiatan tersebut diikuti sekitar 50 jurnalis dari berbagai media.
Menurut Anis, ketakutan terhadap suatu ideologi, negara, maupun agama kerap direkayasa menjadi instrumen politik untuk membangun persepsi ancaman. Fenomena itu, kata dia, tampak dalam berbagai bentuk, mulai dari ketakutan terhadap China, Rusia, hingga Islam.
“Yang paling kita khawatirkan adalah pemanfaatan isu agama sebagai instrumen dalam konflik geopolitik,” ujar Anis.
Karena itu, lanjut dia, diplomasi Indonesia tengah mengembangkan kerja sama dengan sejumlah negara untuk membangun narasi yang memungkinkan masyarakat saling memahami latar belakang agama masing-masing tanpa merasa saling terancam.
Anis mencontohkan, Kementerian Luar Negeri sedang menjajaki kerja sama dengan utusan khusus Belanda untuk urusan kebebasan beragama sebagai bagian dari upaya melawan berbagai bentuk fobia yang lahir dari residu sejarah.
Ia bahkan mengusulkan agar pameran mengenai Syekh Yusuf Al-Makassari tidak hanya digelar di Kedutaan Besar Belanda, tetapi juga di Benteng Rotterdam, Gowa, Sulawesi Selatan. Menurutnya, langkah itu dapat menjadi simbol sejarah bersama yang mendorong rekonsiliasi dan mengurangi beban masa lalu.
“Supaya kita sama-sama punya sejarah dan mulai melupakan residu-residu itu. Kalau residu sejarah terus hidup dalam memori kita, kita akan sulit bekerja sama,” katanya.
Dalam paparannya, Anis juga mengajak peserta melihat keterhubungan sejarah dunia. Ia menyinggung jatuhnya Konstantinopel pada 1453, berakhirnya kekuasaan Islam di Andalusia pada 1492, hingga kedatangan Portugis ke Nusantara pada 1511 sebagai rangkaian peristiwa yang saling berkaitan dalam perubahan geopolitik global.
