Luluh Lantak

Luluh Lantak

Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada pengkhianatan yang dramatis. Yang ada hanyalah dua langkah yang perlahan menjauh hingga tak lagi saling terdengar.

Barangkali memang demikian hakikat cinta. Ia tidak selalu meminta dua insan untuk tetap bersama.

Kadang ia hanya mengajarkan bahwa mencintai berarti menerima kenyataan ketika jalan yang ditempuh tak lagi searah.

Sebab memaksa seseorang berjalan di jalan yang bukan pilihannya hanyalah mengubah cinta menjadi penjara.

Mungkin masih ada rindu yang tertinggal di setiap sudut kenangan.

Mungkin masih ada doa yang diam-diam dipanjatkan untuk kebahagiaan orang yang telah pergi.

Namun cinta yang dewasa tahu kapan harus menggenggam, dan kapan harus merelakan.

Sebab tidak semua cinta menjadi tempat kita pulang, sebagian hanya ditakdirkan singgah untuk menjadi pelajaran paling indah tentang kehilangan.

Ketika Asmaraloka akhirnya luluh lantak, yang gugur bukan sekadar sebuah hubungan, melainkan semesta kecil yang pernah dibangun oleh dua hati.

Dan dari reruntuhan itu, kita belajar satu hal yang paling getir, bahwa cinta jarang takluk karena badai.

Lebih sering, ia perlahan runtuh ketika dua jiwa yang dahulu saling memilih memutuskan melangkah ke cakrawala yang berbeda.[dit]

Exit mobile version