Padahal Gerindra menegaskan Presiden tidak pernah mengintervensi proses hukum, dan penetapan tersangka tidak membutuhkan restu kepala negara.
Pernyataan seperti itu bukan sekadar kontroversial. Itu berpotensi menggerus kepercayaan masyarakat terhadap independensi aparat penegak hukum. Seolah-olah hukum hanya bergerak jika ada sinyal politik. Seolah-olah institusi negara hanyalah bidak dalam permainan panggung.
Sungguh ironis. Seorang advokat selama ini gemar berbicara soal supremasi hukum justru menampilkan narasi yang membuat publik mempertanyakan marwah hukum itu sendiri.
Lebih ironis lagi, penghinaan kepada wartawan dilakukan oleh figur publik yang hidup dari sorotan media. Kamera yang dulu membesarkan namanya, kini justru merekam salah satu momen paling memalukan dalam perjalanan kariernya.
Popularitas ternyata tidak selalu melahirkan kebijaksanaan. Kemewahan rupanya tidak otomatis menghadirkan kerendahan hati. Gelar advokat senior ternyata tidak menjamin seseorang mampu menghormati profesi lain.
Publik kecewa. Sangat kecewa. Bukan karena Hotman membela kliennya. Itu adalah hak sekaligus kewajiban seorang pengacara.
Yang membuat publik marah adalah cara membela yang dipenuhi arogansi, merendahkan profesi lain, menyerang pribadi wartawan, lalu membawa-bawa nama Presiden dalam pusaran polemik yang seharusnya berdiri di atas fakta hukum.
Tidak ada seorang pun yang kebal dari kritik. Tidak ada selebritas lebih tinggi dari martabat pers. Tidak ada pengacara yang lebih besar dari etika.
Kali ini, Hotman Paris benar-benar offside. Bukan satu langkah, tetapi seperti berlari keluar lapangan sambil menendang papan skor. Yang roboh bukan hanya citra dirinya, tetapi juga kepercayaan banyak orang yang selama ini mengaguminya sebagai sosok pemberani.
Publik tidak membutuhkan pertunjukan ego. Publik membutuhkan keteladanan. Ketika seorang tokoh memilih menghina wartawan yang sedang bekerja, sesungguhnya sedang ia lukai bukan hanya satu profesi. Ia sedang menggores wajah demokrasi itu sendiri.
Goresan itu akan jauh lebih lama dikenang dari seribu unggahan tentang cincin berlian, mobil mewah, atau jas berharga miliaran rupiah.
Jamani (Analis Sosial Politik)
