Fakta Nasional

Tepis Isu Lahan Papua Dihargai Rp100 Ribu/Ha, Mentan Amran: Sawah 137 Ribu Hektare Murni Milik Rakyat

FAKTANASIONAL.NET — Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman meluruskan kabar bohong ( hoaks ) dan isu miring terkait pembangunan sektor pertanian di Papua, termasuk narasi menyesatkan yang menyebut tanah milik masyarakat setempat dihargai kur…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Jessy Serianda Editor: Redaksi 📍 Nasional Wednesday, 22 July 2026 📖 3 menit
Tepis Isu Lahan Papua Dihargai Rp100 Ribu/Ha, Mentan Amran: Sawah 137 Ribu Hektare Murni Milik Rakyat
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memberikan penjelasan di hadapan sekitar 2.000 kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dalam acara Resepsi Milad ke-65 dan Rakernas IPM di Universitas Muhammadiyah Jakarta, Sabtu (18/7/2026). Mentan membantah tegas isu miring terkait harga t…

FAKTANASIONAL.NET — Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman meluruskan kabar bohong (hoaks) dan isu miring terkait pembangunan sektor pertanian di Papua, termasuk narasi menyesatkan yang menyebut tanah milik masyarakat setempat dihargai kurang dari Rp100 ribu per hektare.

Penegasan tersebut disampaikan Mentan Amran saat menghadiri Resepsi Milad ke-65 Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dan Rapat Kerja Nasional IPM bertema "Resonansi Algoritma Pelajar Berdampak" di Universitas Muhammadiyah Jakarta, Sabtu lalu (18/7/2026).

Di hadapan sekitar 2.000 kader IPM se-Indonesia, Amran menjawab kekhawatiran yang dilontarkan oleh salah satu peserta delegasi IPM Tangerang Selatan, Muhammad Tamim Setiaji, mengenai kesimpangsiuran informasi tersebut.

Mentan Amran menegaskan bahwa tuduhan pengambilalihan tanah rakyat dengan harga murah adalah bentuk fitnah yang tidak sesuai dengan kondisi riil di lapangan.

"Fitnah itu bertebaran. Salah satunya harga tanah Rp100 ribu per hektare. Itu fitnah yang sangat kejam terhadap pemerintah, termasuk kepada kami yang menjalankan program. Padahal faktanya sama sekali tidak demikian," tegas Mentan Amran.

Ia menceritakan bahwa pemerintah sama sekali tidak mengambil hak kepemilikan tanah warga.

Baca Juga: Komisi IV DPR Sonny Danaparamita Minta Kementan Segera Atasi Lonjakan Harga Telur yang Merugikan Peternak

Sebaliknya, negara memfasilitasi pencetakan sawah yang kepemilikannya 100 persen diserahkan kepada masyarakat lokal, lengkap dengan dukungan sarana dan prasarana penunjang.

Hingga saat ini, pemerintah telah membangun sekitar 137 ribu hektare lahan pertanian di Papua yang dibarengi dengan pengiriman ratusan Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan), pembentukan Brigade Pangan, pembangunan jaringan irigasi, serta pengembangan komoditas lokal seperti sagu dan kelapa secara gratis.

"Sawah itu milik rakyat. Tidak ada yang menjadi milik negara. Alat mesin pertanian kami berikan gratis. Irigasi kami bangun. Bahkan bantuan yang diberikan nilainya mencapai triliunan rupiah. Semua itu untuk masyarakat," ujarnya.

Tingkatkan Pendapatan Warga dan Permintaan Perluasan Lahan

Amran membeberkan bahwa program cetak sawah telah meningkatkan kesejahteraan warga Papua secara nyata.

Banyak petani lokal yang mengelola 3 hingga 4 hektare lahan mampu mengantongi pendapatan bersih hingga belasan juta rupiah per bulan.

"Petani di sana menyampaikan sendiri bahwa mereka mendapat lahan untuk dikelola dan penghasilannya meningkat hingga sekitar Rp15 juta sampai Rp20 juta per bulan. Traktor juga menjadi milik mereka. Ini fakta di lapangan," katanya.

Bahkan, ia menceritakan pengalamannya dikerumuni masyarakat saat hendak bertolak dari bandara di Papua.

Alih-alih mendapat penolakan, warga justru meminta agar program cetak sawah ditambah hingga ribuan hektare agar manfaatnya dirasakan lebih luas.

"Ketika saya di bandara hendak pulang, masyarakat mencegat saya bukan untuk menolak, tetapi meminta tambahan lahan cetak sawah hingga ribuan hektare. Mereka ingin ikut merasakan manfaat program ini. Itu fakta yang saya alami langsung," ungkapnya.

Langkah percepatan pembangunan pertanian di Papua ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen pemerataan pembangunan nasional sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

Ajakan Produktif bagi Generasi Muda

Mengakhiri dialognya, Mentan Amran berpesan kepada ribuan pelajar dan mahasiswa agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang belum terverifikasi kebenarannya.

"Saya mengajak adik-adik semua untuk melihat fakta. Jangan langsung percaya pada narasi atau film yang belum tentu sesuai kenyataan. Mari kita cek langsung, dengarkan masyarakat yang menerima manfaatnya," ajaknya.

Selain persoalan Papua, Amran juga mendorong kader IPM untuk aktif menggarap pertanian urban (urban farming) melalui pemanfaatan pekarangan rumah, seperti program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL).

"Kalau mau mulai, tanam cabai di lima pot saja di rumah. Dengan memanfaatkan pekarangan, kebutuhan cabai keluarga bisa dipenuhi sendiri. Yang penting mulai dari hal kecil dan jangan biarkan ada lahan yang menganggur," pesannya.

"Jangan pernah menyerah. Terus belajar, terus bekerja, dan jadikan setiap tantangan sebagai pijakan untuk sukses. Indonesia membutuhkan generasi muda yang produktif, kritis, tetapi tetap berpijak pada fakta," tutup Amran.


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK