Komisi IV DPR Sonny Danaparamita Minta Kementan Segera Atasi Lonjakan Harga Telur yang Merugikan Peternak

Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI-Perjuangan, Sonny T. Danaparamita. (Foto: Parlemen/F.N.)

​JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET – Anggota Komisi IV DPR RI, Sonny T Danaparamita menelepon langsung pihak Kementerian Pertanian agar cepat atasi merosotnya harga jual telur yang merugikan para peternak ayam petelur di daerah-daerah.

Sonny T Danaparamita mendapat laporan dari akar rumput, bahwa para peternak ayam petelur mendapat hantaman ganda berupa lonjakan harga pakan dan merosotnya harga jual telur di pasaran. Para peternak pun mengalami kerugian besar, bahkan ribuan di antaranya terancam gulung tikar.

Mengetahui hal tersebut, Legislator Fraksi PDI Perjuangan itu langsung menghubungi Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian, Agung Suganda, untuk mendesak adanya perhatian serius dan penanganan cepat dari pemerintah.

​”Situasi ini sangat berat bagi peternak mandiri kita. Pemerintah harus memberikan atensi lebih dan hadir dengan solusi riil sebelum situasi ini memaksa ribuan peternak kita gulung tikar,” ujar Sonny menegaskan sisi urgensi masalah ini.

Menilai Efektivitas Kebijakan di Lapangan

​Dalam koordinasi tersebut, Dirjen PKH Kementan, Agung Suganda, menjelaskan bahwa Kementerian Pertanian sebenarnya telah mengupayakan sejumlah langkah strategis menyusul pertemuan Menteri Pertanian dengan asosiasi koperasi peternak.

​Upaya tersebut dimulai dari langkah optimalisasi penyerapan, di mana Kementan telah menyurati Kepala Badan Gizi Nasional untuk meningkatkan serapan telur dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) sesuai Harga Acuan Penjualan (HAP).

Demi memberikan perlindungan pada pasar lokal, Kementan juga mengusulkan ke BKPM agar investasi asing pada sektor ayam petelur di Pulau Jawa dimasukkan ke dalam negative list.

​Selain itu, pengawasan di lapangan juga diperketat dengan meminta Satgas Pangan memonitor pembelian telur oleh para broker agar harganya tetap mengacu pada HAP.

Di sisi hulu, pemerintah turut mengimbau peternak besar untuk melakukan afkir ayam di atas usia 90 minggu demi menjaga keseimbangan suplai di pasar. Langkah ini kemudian diperkuat dengan mendorong penyaluran SPHP Jagung serta meminta pabrik pakan (feedmill) untuk menahan kenaikan harga.

​Meski menghargai langkah-langkah yang telah diambil tersebut, Sonny mengingatkan secara tegas bahwa dampak kebijakan tersebut belum dirasakan secara optimal oleh para peternak di lapangan. Berbagai upaya yang sudah berjalan beberapa minggu terakhir nyatanya belum mampu mendongkrak harga telur ke tingkat yang ideal.

“Kita harus melihat realitas di lapangan. Upaya sudah dilakukan, tapi harga telur masih belum sesuai harapan. Kita tidak boleh pasrah, Kementan dan seluruh stakeholder terkait harus bergerak lebih progresif mencari jalan keluar,” kata Sonny.