FAKTANASIONAL.NET | Pengasuh Pondok Pesantren Wali Salatiga, Jawa Tengah, KH Anis Maftuhin, menyerukan agar Muktamar NU menjadi momentum perubahan dan ruang terbuka bagi seluruh kader untuk menyampaikan gagasan terbaik bagi masa depan organisasi.
Menurut Anis, warga NU di tingkat bawah memiliki aspirasi sederhana, yakni agar para muktamirin memilih calon pemimpin yang benar-benar mampu membawa perubahan dan menyelesaikan berbagai persoalan yang masih terjadi di tubuh Nahdlatul Ulama.
“Kami membawa aspirasi teman-teman di bawah kepada para muktamirin. Aspirasi kami sederhana, mari memilih calon yang benar-benar mampu membawa perubahan. Masih banyak persoalan di tubuh NU yang belum diselesaikan,” kata Anis dalam acara Serial Diskusi Muktamar ke-35 NU dengan tema Muktamar NU untuk Semua di Kafe Trisnoku, Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat, Jumat (7/8/2026).
Ia menilai, masih terdapat sejumlah aturan dalam organisasi yang perlu dievaluasi dan diperbaiki. Namun, menjelang muktamar, energi organisasi justru banyak tersedot pada perdebatan mengenai siapa yang boleh atau tidak boleh menjadi calon pengurus.
“Yang selalu diperdebatkan hingga menjelang muktamar hanyalah soal siapa yang boleh menjadi calon pengurus. Energi kita habis di situ. Sementara urusan jam’iyah dan jamaah justru kurang mendapatkan perhatian,” ujarnya.
Karena itu, Anis meminta seluruh pihak tidak bersikap fobia terhadap latar belakang calon tertentu, termasuk mereka yang memiliki pengalaman sebagai politisi. Menurutnya, yang harus menjadi ukuran utama adalah kapasitas, integritas, gagasan, dan kemampuan calon dalam memimpin organisasi.
“Kita tidak perlu fobia terhadap siapa pun, termasuk politisi. Kalau memang nanti terpilih dan harus mundur dari jabatan politiknya, ya tinggal mundur. Selesai. Itu bukan persoalan besar,” tegasnya.











