Udara Terasa Lebih Malam Sampai Pagi Saat Musim Kemarau, Pakar Geofisika dan Meteorologi IPB: Bukan Dampak Perubahan Iklim

FAKTANASIONAL.NET – Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Dr. Givo Alsepan mengemukakan suhu udara yang terasa lebih dingin pada malam hingga pagi hari saat musim kemarau merupakan fenomena alam yang disebut sebagai bediding.

Fenomena bediding bukan dampak langsung perubahan iklim, tapi bagian dari dinamika iklim musiman yang hampir selalu terjadi pada periode Juni hingga September.

“Bediding merupakan fenomena atmosfer yang normal terjadi selama musim kemarau. Ia tidak berdiri sendiri, melainkan manifestasi dari proses fisik atmosfer. Kondisi ini terjadi ketika suhu minimum harian turun cukup signifikan akibat pendinginan radiasi yang berlangsung sangat efektif,” katanya.

Fenomena ini dipicu oleh kombinasi sejumlah kondisi atmosfer yang lazim terjadi selama musim kemarau. Salah satu penyebab utamanya ialah langit yang cenderung cerah pada malam hari.

Jadi, panas yang diserap permukaan bumi pada siang hari lebih mudah dipancarkan kembali ke atmosfer dan luar angkasa.

Udara pada musim kemarau umumnya lebih kering dibandingkan musim hujan dan berkurangnya kandungan uap air di atmosfer membuat panas tidak banyak tertahan sehingga proses pendinginan berlangsung semakin efektif.

“Ketika udara lebih kering, pelepasan panas dari permukaan bumi berlangsung lebih efektif. Akibatnya, udara pada malam hingga pagi hari terasa jauh lebih dingin,” ujarnya.

Givo Alsepan mengemukakan kondisi tersebut lebih terasa di daerah pegunungan dan dataran tinggi, karena dipengaruhi elevasi yang lebih tinggi dan aliran udara dingin yang cenderung berkumpul di lembah.