Seorang juru bicara Houthi menyebut blokade laut yang diberlakukan kelompok tersebut terhadap Arab Saudi sebagai tahap awal dari kampanye yang mereka sebut “blokade untuk blokade”, dikutip dari Reuters pada 25 Juli 2026.
Sementara itu, Kepala Negosiator Houthi Mohammed Abdulsalam menuduh Arab Saudi menggunakan tekanan militer dan ekonomi setelah, menurutnya, kerajaan tersebut gagal mencapai tujuan dalam perang yang telah berlangsung selama delapan tahun di Yaman.
Dalam pernyataannya yang disiarkan Al Masirah TV dan dikutip Al Jazeera, Abdulsalam menuding Arab Saudi memperluas konflik dengan menargetkan Hodeidah, Pulau Kamaran, dan Bandara Sanaa.
Ia juga memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap Yaman akan dibalas oleh kelompoknya.
“Setiap tindakan Arab Saudi akan berdampak pada keamanan dan ekonomi kerajaan tersebut,” kata Mohammed Abdulsalam, dikutip dari Al Masirah TV melalui Al Jazeera.
Perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa ketegangan antara kedua pihak masih jauh dari mereda dan berpotensi memengaruhi stabilitas keamanan kawasan Timur Tengah.[dit]
