Arab Saudi Terkepung, Sekutu Memilih Menonton dari Belakang

Arab Saudi Terkepung, Sekutu Memilih Menonton dari Belakang/Instagram

KITA bisa melihat ironi besar dalam geopolitik Timur Tengah saat ini, ketika sebuah negara yang selama bertahun-tahun menjadi bagian penting dari arsitektur keamanan kawasan justru harus berhadapan dengan ancaman di garis depan ketika eskalasi benar-benar terjadi.

Arab Saudi kini menghadapi situasi yang tidak sederhana. Konflik dengan kelompok Houthi di Yaman kembali meningkat, sementara kawasan Teluk juga terseret dalam ketegangan Amerika Serikat dan Iran.

Di tengah situasi itu, Riyadh tampak semakin harus mengandalkan kekuatan sendiri untuk menghadapi serangan yang menyasar wilayah dan infrastrukturnya.

Laporan terbaru menunjukkan Houthi telah memperluas penguasaan di pesisir Laut Merah, termasuk Mocha dan sejumlah pulau strategis di sekitar Bab al-Mandeb.

Perkembangan tersebut memiliki arti penting bukan hanya bagi Yaman, tetapi juga bagi jalur perdagangan dan energi internasional.

Serangan rudal dan drone dilaporkan menyasar sejumlah wilayah Saudi, sementara sistem pertahanan udara Saudi juga mencegat drone yang dilaporkan terbang mendekati Mekkah.

Saudi menyebut keamanan kota suci tersebut sebagai garis merah, sedangkan Houthi membantah tuduhan bahwa mereka secara khusus menargetkan Mekkah.

Di sinilah pertanyaan besar muncul: ketika ancaman datang, sebenarnya sejauh mana sekutu Arab Saudi bersedia berdiri di samping Riyadh?

Ketika Sekutu Hadir, Tetapi Tidak Turun ke Medan

Persoalannya bukan berarti Arab Saudi sama sekali tidak mendapatkan bantuan.

Justru laporan menunjukkan terdapat dukungan intelijen dan penasihat militer Amerika Serikat.

Lebih dari 100 penasihat militer AS dilaporkan berada di Saudi untuk membantu intelijen dan penargetan.

Namun, ketika serangan Houthi berkembang menjadi ofensif besar di pesisir Yaman, dukungan udara langsung yang diharapkan Riyadh tidak datang.

Kemudian Permintaan Putra Mahkota Mohammed bin Salman kepada Presiden Donald Trump untuk melakukan intervensi udara ditolak.

Perbedaan antara “membantu” dan “berperang bersama” menjadi sangat penting di sini.

Penasihat militer dapat memberikan informasi. Intelijen dapat membantu menentukan sasaran. Koordinasi dapat memperkuat pertahanan.

Tetapi ketika rudal dan drone meluncur, yang menentukan di medan perang tetaplah kemampuan untuk mencegat, menyerang balik, dan mempertahankan wilayah.

Dan di titik itulah Riyadh tampak berada dalam posisi yang jauh lebih rumit.

Arab Saudi bahkan harus meningkatkan serangan udaranya sendiri. Houthi melaporkan 54 serangan udara Saudi dalam 24 jam pada 15 September 2026, meskipun klaim tersebut belum dikonfirmasi secara independen dan Saudi belum memberikan komentar publik mengenai seluruh rincian yang disampaikan Houthi.

Dengan demikian, gambaran yang muncul bukanlah Arab Saudi benar-benar sendirian.

Lebih tepat dikatakan bahwa Saudi berada di garis depan, sementara sebagian sekutunya memilih memberikan dukungan dari jarak tertentu dan menghindari keterlibatan tempur langsung.

Alasannya pun mudah dipahami secara strategis.

Amerika Serikat sedang menghadapi konfrontasi dengan Iran. Membuka front baru secara langsung melawan Houthi berpotensi memperluas perang. Bagi Washington, keterlibatan terbuka di Yaman dapat menciptakan konsekuensi yang jauh lebih besar daripada sekadar membantu Saudi mempertahankan wilayahnya.

Namun dari sudut pandang Riyadh, kalkulasi tersebut tentu terasa berbeda.

Bagi Saudi, ancamannya bukan teori geopolitik. Rudal dan drone datang menuju wilayahnya.

Infrastruktur energi terganggu. Jalur ekspor menghadapi ancaman. Bahkan ruang udara di sekitar kota suci ikut menjadi perhatian.

Bagian paling sensitif dari krisis ini adalah energi.

Exit mobile version