Lonjakan Data Center Picu Kekhawatiran Warga soal Air dan Listrik

Tren Harga Batu Bara Menguat, Australia Optimis/(Pixabay)

FAKTANASIONAL.NET – Malaysia mulai menghadapi tantangan baru setelah beberapa tahun menikmati derasnya investasi asing di sektor data center.

Negara yang sempat diproyeksikan menjadi pusat data baru di Asia Tenggara itu kini dihadapkan pada penolakan masyarakat terkait dampak pembangunan fasilitas tersebut terhadap sumber daya alam dan lingkungan.

Dikutip dari CNBC Indonesia, Jumat, 24 Juli 2026, gelombang protes paling kuat muncul di Johor, wilayah yang menjadi pusat pertumbuhan data center dengan nilai investasi melebihi US$35 miliar atau sekitar Rp629 triliun.

Perdebatan serupa juga berkembang di Selangor, negara bagian dengan aktivitas ekonomi terbesar di Malaysia.

Direktur Pelaksana Equinix Malaysia, Cheam Tat Inn, mengatakan fokus industri kini tidak lagi sekadar membangun kapasitas. “Pembicaraan saat ini lebih mengarah pada hal-hal seperti: Bagaimana Anda akan menggunakan energi?

Apakah Anda mempertimbangkan sumber energi terbarukan? Mereka ingin melihat bagaimana Anda akan tumbuh secara berkelanjutan dan bertanggung jawab,” ujarnya, dikutip dari Reuters melalui CNBC Indonesia pada 24 Juli 2026.

Fenomena tersebut mencerminkan kondisi yang sebelumnya juga dialami Singapura, Irlandia, dan Belanda ketika pertumbuhan pusat data memicu kekhawatiran mengenai konsumsi listrik dan air yang tinggi.

Exit mobile version