Ketika Kekuasaan Mulai Memelihara Sentimen

Ketika Kekuasaan Mulai Memelihara Sentimen/(FKN)

Saat itulah jabatan kehilangan kehormatannya.

Yang lebih mengkhawatirkan, sentimen sering dibungkus dengan dalih menjaga wibawa. Padahal wibawa tidak pernah lahir dari rasa takut.

Wibawa lahir ketika seorang pemimpin bersedia dikoreksi tanpa merasa direndahkan. Kekuasaan yang anti-kritik bukanlah kekuasaan yang kuat. Ia hanyalah kekuasaan yang rapuh dan takut kehilangan citra.

Dalam dunia kerja, organisasi, bahkan pemerintahan, banyak persoalan sebenarnya bukan lahir karena kurangnya kemampuan, melainkan karena matinya budaya koordinasi.

Orang lebih sibuk membuat klaim daripada mencari penjelasan. Vonis dijatuhkan sebelum fakta dikumpulkan. Kesalahan diumumkan sebelum komunikasi dilakukan.

Padahal koordinasi adalah bahasa orang dewasa. Menghakimi tanpa memahami hanyalah kebiasaan ego yang terlalu tergesa-gesa merasa paling benar.

Kekuasaan yang sehat selalu memberi ruang bagi dialog. Sebaliknya, kekuasaan yang dikuasai sentimen akan menutup semua pintu diskusi. Ia hanya membuka satu arah, yaitu perintah. Tidak ada ruang bertanya, apalagi berbeda. Semua orang dipaksa sepakat, bukan karena yakin, tetapi karena takut.

Ironisnya, rasa takut memang mampu menciptakan kepatuhan, tetapi tidak pernah melahirkan penghormatan. Orang mungkin tunduk di hadapan jabatan, namun belum tentu menghormati pemilik jabatan itu.

Setiap kekuasaan pada akhirnya memiliki batas waktu. Masa jabatan akan selesai. Kursi akan berganti penghuni. Pengawal akan pulang. Ruang kerja akan ditempati orang lain. Yang tersisa hanyalah jejak moral dari keputusan-keputusan yang pernah diambil.

Sejarah tidak pernah terlalu tertarik mencatat berapa lama seseorang berkuasa. Sejarah lebih tertarik mengingat bagaimana ia menggunakan kekuasaan itu. Apakah ia membangun keadilan, atau justru memelihara sentimen? Apakah ia mendengar suara yang berbeda, atau membungkamnya demi kenyamanan?

Kekuasaan sejatinya bukan mahkota. Ia adalah ujian. Semakin besar kuasa yang dimiliki seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moral yang dipikulnya. Jabatan bukan lisensi untuk merasa paling benar. Ia hanyalah mandat yang sewaktu-waktu dapat dicabut oleh waktu.

Karena itu, ukuran seorang pemimpin bukanlah seberapa banyak orang yang bertepuk tangan di hadapannya, melainkan seberapa banyak orang yang masih berani mengatakan kebenaran kepadanya. Jika tidak ada lagi yang berani mengoreksi, mungkin bukan karena ia telah menjadi pemimpin yang sempurna. Bisa jadi, orang-orang hanya telah belajar bahwa kejujuran tidak lagi memiliki tempat di sekitar kekuasaannya.

Dan ketika kekuasaan telah kehilangan telinga untuk mendengar, sesungguhnya ia sedang menggali lubang bagi dirinya sendiri. Sebab setiap kekuasaan yang memelihara sentimen pada akhirnya tidak akan runtuh oleh musuh dari luar, melainkan oleh kesombongan yang tumbuh dari dalam.[dit]

Exit mobile version