Hari itu kopi mungkin masih hangat, tetapi suasananya sudah sedingin ruang sidang. Padahal alarm kemarahan sudah berbunyi sejak awal. “Wah, ini mah saya marah atuh. Ini saya marah sekali lihat ini.”
Lalu disusul kalimat yang memastikan urusan ini tidak berhenti sebagai tontonan. “Wah, tidak bisa dibiarkan ini. Akan kami pidanakan.”
Masih ada satu sindiran terasa seperti lemparan batu ke kolam. “Ini motong sembarangan, wani-wanian. Ini yang motong ini pasti merasa dia punya backing yang kuat.”
Kalimat itu membuat orang mungkin refleks menoleh ke kanan dan kiri. Jangan-jangan yang dimaksud “backing” merasa akar pohon lebih lemah dari koneksi.
Untungnya kemarahan itu tidak berhenti menjadi konten. Garis kuning Satpol PP langsung dipasang. Farhan menegaskan penebangan tersebut melanggar dua aturan sekaligus, yakni Peraturan Daerah Kota Bandung dan Surat Edaran Moratorium Penebangan Pohon dari Gubernur Jawa Barat. Kasus ini juga akan dilaporkan kepada gubernur dan penegak hukum lingkungan di kementerian.
Yang membuat kisah ini semakin dramatis, beberapa pekan sebelumnya publik justru mengira Farhan sedang tumbang. Pada 10 Juli 2026 ia sempat dilarikan ke rumah sakit setelah mendadak drop dan pucat di Balai Kota. Sekda menyebut penyebab awalnya kelelahan akibat jadwal kerja yang padat hingga sering memantau kegiatan sampai dini hari. Kondisinya membaik pada 11 Juli, masih menjalani observasi dokter, lalu pada 13 Juli sudah kembali bekerja meninjau MPLS di sejumlah sekolah. Hasil pemeriksaan menunjukkan infeksi pencernaan memicu maag hingga vertigo.
Akhirnya yang benar-benar tumbang bukan semangat wali kotanya, melainkan sepuluh pohon mahoni. Setelah pulih, Farhan kembali dengan energi terasa seperti kereta cepat Whoosh kehilangan rem di tengah Braga. Bandung pun memberi pelajaran sederhana. Jangan sembarangan menebang pohon. Sebab yang bisa datang bukan hanya penyidik, melainkan wali kota dengan telunjuk setajam tusuk Gedung Sate dan amarah yang lebih menggema dari pekikan “Halo Bandung”. Pohon memang tidak bisa berteriak, tetapi hari itu suara kemarahan wali kota seolah mewakili seluruh dedaunan yang sudah lebih dulu dibungkam gergaji.
Jamani
