Opini  

Al-Qur’an Dibakar, Umat Islam Malah Makin Bangga

Namun ada tamparan berikutnya. Sebuah asesmen literasi Al-Qur’an memperkirakan 72,25 persen masyarakat Indonesia belum mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Hanya sekitar 25 persen umat Islam Indonesia yang disebut fasih membacanya.

Nah, ini baru ironi level premium. Kita bisa bangga dengan MTQ, hafiz, kaligrafi, konferensi, dan penelitian. Tetapi fondasinya jangan sampai masih bolong. Mau mencetak hafiz sebanyak-banyaknya, membaca saja belum lancar.

Jangan sampai kita sibuk mencari orang yang hafal 30 juz, sementara tetangga sebelah masih mengeja huruf hijaiyah sambil menatap tajwid seperti menatap soal ujian CPNS.

Lalu muncullah manusia yang tampaknya kehabisan argumen dan menemukan korek api.

Agustus 2025, Valentina Gomez membakar Al-Qur’an dengan penyembur api. Salwan Momika membakar dan menginjak-injak Al-Qur’an di Stockholm pada 2023. November 2025, Jake Lang mencoba membakarnya di Dearborn lalu melakukan penodaan menggunakan kepala babi di depan masjid di Plano. Rasmus Paludan berulang kali membakar Al-Qur’an di Swedia pada 2022–2023. Edwin Wagensveld melakukan aksi serupa di Amsterdam serta merobek halaman Al-Qur’an pada 2023 dan 2025. Desember 2025, Al-Qur’an dirantai di pagar Masjid Raya Stockholm dengan enam lubang peluru dan pesan rasis.

Motifnya antara lain provokasi, politik identitas, dan akar personal-geopolitik. Polanya sederhana, bakar Al-Qur’an, tunggu umat marah, rekam, lalu jual narasi bahwa Muslim brutal. Ini bukan debat. Ini konten murahan dengan bensin sebagai properti utama.

OKI yang beranggotakan 57 negara mengecam. Al-Azhar menyebutnya provokasi terencana. Iran dan Yaman juga mengecam. Di berbagai negara, persoalan hukumnya bersinggungan dengan kebebasan berbicara, ujaran kebencian, ketertiban, hingga penghujatan.

Tetapi umat Islam tidak perlu minder. Justru bangga, sambil introspeksi. Bangga karena Al-Qur’an terus hidup dalam MTQ, pesantren, kampus, penelitian, tradisi, dan jutaan hati. Introspeksi karena pekerjaan rumahnya juga nyata, memperbanyak hafiz, memperkuat kemampuan membaca, memahami, dan mengamalkan.

Sebab membakar Al-Qur’an tidak akan membunuh Al-Qur’an. Kertas bisa dibakar. Hafalan tidak. Buku bisa dirusak. Iman tidak.

Mereka punya korek api. Umat Islam punya Al-Qur’an. Tugas kita bukan sibuk mengejar asapnya. Tugas kita memastikan Al-Qur’an semakin banyak dibaca, dihafal, dipahami, dan hidup dalam perilaku.

Sebab kemenangan terbesar bukan ketika pembenci berhenti membakar. Kemenangan terbesar adalah ketika umat Islam sendiri tidak pernah berhenti mencintai Al-Qur’an.

Jamani