Raja Timur

Presiden ke-7 RI Joko Widodo Mendapatkan penganugerahan gelar "Raja Timur"/(Instagram)

LEGITIMASI seorang pemimpin semestinya lahir dari kepercayaan publik, bukan dari bertumpuknya gelar kehormatan.

Sebab sejarah tidak pernah mencatat seorang negarawan menjadi besar karena banyaknya gelar adat yang disandang, melainkan karena kualitas kepemimpinan dan warisan kebijakannya.

Fenomena penganugerahan gelar “Raja Timur” kepada Presiden ke-7 RI Joko Widodo kembali menghidupkan pertanyaan lama: apakah ini sekadar penghormatan budaya, atau telah menjelma menjadi panggung politik?

Sulit mengabaikan fakta bahwa setiap simbol yang melekat pada tokoh politik memiliki makna yang melampaui seremoni.

Dalam dunia politik, simbol adalah bahasa kekuasaan. Gelar bukan lagi sekadar penghargaan, melainkan alat membangun persepsi, menjaga pengaruh, bahkan mengirim pesan bahwa seorang tokoh masih memiliki tempat di puncak hierarki politik.

Di sinilah kritik Made Supriatma yang dikutip redaksi dari media Fajar menjadi relevan untuk diperdebatkan.

Ia menilai terjadi perubahan citra Jokowi: dari sosok yang dahulu membangun popularitas melalui kesederhanaan, menjadi figur yang semakin dekat dengan simbol-simbol kebesaran.

Terlepas dari apakah penilaian itu diterima atau ditolak, perubahan tersebut memang layak menjadi bahan evaluasi publik.

Demokrasi selalu mencurigai konsentrasi kekuasaan yang terlalu lama berada di sekitar orang yang sama.

Bahkan setelah masa jabatan berakhir, pengaruh politik yang terus dipelihara melalui berbagai simbol kehormatan dapat menimbulkan kesan bahwa pergantian kepemimpinan hanya terjadi secara administratif, sementara orbit kekuasaan tetap berpusat pada figur yang sama.

Ironisnya, budaya yang semestinya menjadi ruang pemersatu berpotensi berubah menjadi alat legitimasi politik.

Exit mobile version