Kemenhut Perkuat Tata Kelola Perdagangan Karbon, Pelaku Industri Apresiasi Perbaikan Ekosistem

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni saat memberikan keterangan terkait penguatan ekosistem perdagangan karbon di Indonesia. Kementerian Kehutanan terus mendorong integrasi pasar karbon berintegritas tinggi yang turut melibatkan perhutanan sosial dan kawasan konservasi./Dok. Kemenhut

FAKTANASIONAL.NET — Pelaku industri karbon mengapresiasi langkah konkret Pemerintah melalui Kementerian Kehutanan (Kemenhut) dalam memperkuat tata kelola perdagangan karbon nasional.

Langkah pembenahan regulasi serta kemudahan iklim usaha dinilai sanggup mengakselerasi pengembangan berbagai proyek karbon di Indonesia.

Apresiasi tersebut disampaikan dalam gelaran audiensi bersama Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni di Kantor Kementerian Kehutanan, Jakarta.

“Kami sangat terbantu dengan kinerja dari Kemenhut karena kami memiliki beberapa karbon project yang sedang berjalan,” ujar Raffael saat audiensi dengan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni di Kantor Kementerian Kehutanan, Jakarta, Selasa, (4/8/2026).

Merespons hal itu, Raja Antoni menegaskan komitmen pemerintah untuk terus membenahi ekosistem pasar karbon.

Ia menyoroti bahwa kekayaan potensi karbon Indonesia yang melimpah selama ini sempat tertahan akibat sumbatan regulasi serta perbedaan persepsi.

“Karena kita paham potensinya sangat besar, namun selama ini terhenti karena ada cara pandang yang berbeda, sehingga potensi yang sedemikian besar sangat terlambat untuk direalisasikan,” ungkapnya.

Baca Juga: Kemenhut Izin Umrah, Wamenhut Wakilkan Rapat Fenomena El Nino

Peta Regulasi dan Proyek Konservasi

Percepatan instrumen pasar karbon kini ditopang oleh hadirnya Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang Nilai Ekonomi Karbon, yang kemudian ditindaklanjuti secara teknis melalui Permenhut Nomor 6 Tahun 2026.

Kerangka regulasi ini pun menuai apresiasi positif dari jajaran lembaga karbon internasional seperti ICVCM, Verra, dan IETA.

Selain penguatan aturan, Kemenhut terobosan baru dengan membuka peluang perdagangan karbon di kawasan konservasi.

Salah satu pilot project yang digarap berlokasi di Taman Nasional Way Kambas, diiringi pembentukan Satgas Inovasi Pendanaan Taman Nasional guna mengoptimalkan skema pembiayaan blended finance.

Exit mobile version