Opini  

Mas Dar, Katanya Zero Tolerance, Kok di Sentani Papua Ada Keracunan MBG

Mas Dar, Katanya Zero Tolerance, Kok di Sentani Papua Ada Keracunan MBG/(FKN)

MAS Dar, Katanya Zero Tolerance, Kok di Sentani Papua Ada Keracunan MBG

Mas… mas…Kalau ngomong sih memang mantap kali. Zero tolerance! Tidak ada ampun! Tidak ada kompromi! Tidak ada belas kasihan!

Nadanya seperti panglima perang baru pulang menaklukkan tujuh kerajaan dan tiga galaksi. Mendengarnya, rakyat langsung tenang. Bakteri pun seharusnya takut. Kuman mestinya langsung mengurus surat pindah kewarganegaraan.

Tapi rupanya bakteri di Indonesia tidak menonton konferensi pers.

Baru beberapa hari setelah Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, berharap kasus keracunan MBG di Semarang menjadi kasus pertama sekaligus terakhir selama dirinya menjabat, eh datang lagi episode berikutnya.

Belum sempat rakyat selesai mengucap “amin”. Bam! Muncul Sentani.

Kalau Semarang kemarin membuat 707 orang tumbang, terdiri 693 siswa dan 14 guru, dengan bonus pusing, mual, muntah, dan diare. Di Papua seolah berkata, “Kami tidak mau ketinggalan trending.”

Sedikitnya 294 orang lebih ikut menjadi korban. Siswa kena. Balita kena. Ibu hamil kena. Guru kena. Lansia kena. Lengkap.

Seolah program ini sedang mengejar target pemerataan nasional.

Menu disajikan juga terlihat sangat normal. Nasi. Sayur sawi campur jagung. Tempe bacem. Telur dadar. Semangka.

Tidak ada racun ular kobra. Tidak ada cairan radioaktif. Tidak ada bumbu dari laboratorium Kim Jong-un.

Tapi hasil akhirnya membuat delapan puskesmas dan RSUD Yowari sibuk seperti petugas bandara saat libur Natal. Bahkan sampai mendirikan tenda darurat.

Lalu rakyat bertanya. Apa penyebabnya? Nah, di sinilah logika mulai jungkir balik sambil salto.

Menurut penjelasan yang disampaikan, penyebabnya kurang lebih sama seperti kasus Semarang.

Waktu memasak terlalu cepat.

Saya ulangi lagi karena ini terlalu indah untuk dilewatkan. Masaknya. Terlalu. Cepat.

Di Papua, dapur mulai memasak sekitar pukul 07.00 atau 07.30 pagi pada H-1, lalu makanan dikirim keesokan harinya sekitar pukul 11 siang.

Di Semarang, memasak dimulai sekitar pukul 21.00 malam.

Sungguh teori yang mengguncang dunia ilmu pengetahuan. Isaac Newton menemukan gravitasi karena apel jatuh. Albert Einstein menemukan relativitas karena berpikir.

Indonesia menemukan keracunan karena masak terlalu cepat. Nobel harus mempertimbangkan kategori baru. Yang jadi pertanyaan sederhana adalah begini.

Kalau penyebabnya sudah diketahui sejak Semarang, mengapa beberapa hari kemudian Sentani masih bisa terjadi?

Apakah bakteri mendapat bocoran jadwal? Apakah pengawasan sedang cuti? Ataukah standar operasional hanya dianggap sebagai karya sastra enak dibaca tetapi tidak wajib dijalankan?

Exit mobile version