Namun tenang. Negara bergerak cepat. Sangat cepat. Lebih cepat dari Whoosh yang utangnya dibayar Purbaya.
Sebanyak 137 Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) langsung dicopot. Empat puluh sembilan dari Jawa Barat. Dua puluh enam dari Lampung.Sebelas dari Jawa Timur. Sepuluh dari Sumatera Utara. Sepuluh dari Banten. Sisanya tersebar di berbagai daerah.
Lima di antaranya berasal dari Jawa Tengah yang dapurnya diduga terkait kasus Semarang. Luar biasa.
Kalau kecepatan mencopot pejabat bisa menghasilkan listrik, PLN mungkin sudah tidak perlu membangun pembangkit baru.
Masalahnya cuma satu. Keracunan berikutnya tetap datang.
Ini seperti rumah kebakaran lalu yang dipindahkan bukan tabung gasnya, melainkan keset di depan pintu.
Api tetap tertawa. Yang menarik lagi adalah perubahan istilah. Dulu disebut “kejadian menonjol.” Sekarang naik kasta menjadi “kejadian fatal.”
Indonesia memang jago dalam urusan mengganti nama. Jalan rusak bisa ganti nama. Program gagal bisa ganti nama. Keracunan pun naik level nama.
Padahal bakteri tidak pernah peduli istilah. Bakteri tidak membaca surat keputusan. Bakteri tidak hadir dalam rapat koordinasi. Bakteri hanya memanfaatkan kelalaian.
Selesai.
Maka rakyat akhirnya melihat pola yang mulai berulang. Setiap ada masalah, muncul janji. Setiap ada korban, muncul konferensi pers. Setiap ada sorotan, muncul pencopotan.
Tapi korban terus bertambah. Yang masuk ambulans bukan istilah. Yang dirawat di rumah sakit bukan narasi. Yang muntah-muntah bukan konferensi pers. Melainkan anak-anak, guru, balita, ibu hamil, dan warga biasa.
Karena itu pertanyaan terbesar hari ini bukan lagi soal zero tolerance.
Pertanyaannya jauh lebih sederhana. Kalau setelah 707 korban di Semarang masih muncul 294 korban lebih di Sentani, sebenarnya yang zero itu toleransinya atau hasil pengawasannya?
Jangan sampai nanti kita terus berganti istilah. Dari “menonjol” menjadi “fatal”. Dari “fatal” menjadi “super fatal”. Lalu “ultra fatal”. Eh malah kegatalan, ups keceplosan, maaf.
Sementara rakyat tetap menjadi kelinci percobaan dalam program seharusnya memberi gizi, bukan memberi pengalaman mengenal ruang IGD.
Berganti pemimpin. Berganti slogan. Berganti konferensi pers. Berganti pejabat yang dicopot.
Tapi kalau racunnya masih datang juga, rakyat berhak curiga. Jangan-jangan yang benar-benar konsisten dalam program ini bukan gizinya. Melainkan keracunannya.
“Bang, untungnya yang minum Koptagul zero keracunan.”
“Alhamdulillah, wak Koptagul selalu bikin otak encer dan waras ”
Penulis: Rosadi Jamani
