FAKTANASIONAL.NET – Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung optimistis perekonomian Indonesia mampu mempertahankan momentum pertumbuhan sepanjang tahun 2026.
Di tengah ketidakpastian kondisi global, pengelolaan fiskal nasional dipastikan tetap terjaga secara kredibel dan pruden.
Pernyataan tersebut disampaikan Wamenkeu Juda Agung dalam wawancara program Top Economy Metro TV.
Wamenkeu Juda memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2026 masih berada di atas level 5 persen.
Meski sedikit lebih rendah dari triwulan sebelumnya, indikator aktivitas ekonomi nasional seperti PMI manufaktur serta impor barang modal dan bahan baku menunjukkan tren ekspansif.
“Pertumbuhan di triwulan II ini sedikit lebih rendah dibanding triwulan I, tetapi gairah ekonomi masih berjalan dengan baik. PMI sudah menunjukkan ekspansi, sementara impor barang modal dan bahan baku meningkat, yang menandakan aktivitas produksi dan investasi terus tumbuh,” ujar Wamenkeu dikutip Jumat (7/8/2026).
Pemerintah meyakini target pertumbuhan ekonomi 2026 di kisaran 5,6–6,0 persen dapat dicapai, didorong oleh berbagai stimulus semester II pada sektor manufaktur dan otomotif.
Mengenai kondisi deflasi pada Juli 2026, Wamenkeu menegaskan hal itu bukan disebabkan oleh penurunan daya beli, melainkan koreksi harga komoditas pangan dan emas.
“Kalau dilihat data kemarin, deflasi itu kan lebih banyak disebabkan oleh penurunan harga pangan khususnya bawang merah dan juga harga emas turun. Ini tidak terlalu tidak mengindikasikan bahwa demand lemah. Apalagi ditambah PMI-nya naik,” jelasnya.
Ketahanan ekonomi nasional turut ditopang oleh kinerja APBN yang tetap sehat hingga pertengahan tahun. Lonjakan penerimaan negara memberi ruang ekspansi bagi belanja pemerintah dengan angka defisit yang amat minim.











