Saya Suka Kritik, Tapi Maaf, Tidak Bisa Membenci, Izin Guru!!!!

Saya Suka Kritik, Tapi Maaf, Tidak Bisa Membenci, Izin Guru!!!!/(Infografis)

Loyalitas Bukan Berarti Diam

Saya justru melihat loyalitas dengan cara yang berbeda.

Loyalitas bukan berarti selalu mengatakan “iya”.

Loyalitas bukan berarti membenarkan semua keputusan.

Loyalitas bukan berarti menutup mata terhadap persoalan.

Loyalitas bukan berarti membiarkan kesalahan berjalan karena takut dianggap tidak setia.

Bagi saya, loyalitas justru bisa muncul dalam bentuk keberanian mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan.

Sebab orang yang benar-benar peduli terkadang harus berani mengatakan:

“Ini tidak baik.”

“Ini harus diperbaiki.”

“Keputusan ini perlu dikaji ulang.”

“Cara ini tidak akan efektif.”

“Jangan lakukan itu.”

Kalimat-kalimat tersebut mungkin tidak terdengar manis.

Tetapi terkadang sesuatu yang menyelamatkan perusahaan memang tidak selalu terdengar manis.

Saya lebih takut berada dalam lingkungan yang seluruh orangnya pandai menyenangkan atasan, tetapi tidak ada seorang pun yang berani menyampaikan kenyataan.

Sebab perusahaan tidak hidup dari pujian.

Perusahaan hidup dari kerja.

Perusahaan tumbuh dari evaluasi.

Perusahaan bertahan karena mampu beradaptasi.

Dan perusahaan menjadi besar ketika mampu membedakan mana suara kebencian dan mana suara kritik.

Sulit Memang Menjadi Orang yang Tidak Mau Berpihak Secara Buta

Saya sadar posisi seperti ini tidak mudah.

Ketika saya mengkritik perusahaan, orang tertentu mungkin menganggap saya sebagai musuh perusahaan.

Ketika saya menolak ikut membenci perusahaan, kelompok tertentu mungkin menganggap saya sebagai orang yang terlalu dekat dengan perusahaan.

Akhirnya saya bisa berada di tengah.

Di satu sisi dianggap terlalu kritis.

Di sisi lain dianggap terlalu loyal.

Dan saya tidak masalah dengan itu.

Sebab saya tidak hidup untuk memenuhi persepsi semua orang.

Saya hanya ingin mempertahankan prinsip.

Kalau memang salah, saya katakan salah.

Kalau memang benar, saya katakan benar.

Kalau memang harus dikritik, saya kritik.

Kalau memang harus dibela, saya bela.

Bukan karena siapa yang berbicara.

Tetapi karena apa yang menurut saya benar.

Itulah mengapa saya mengatakan: Si Fakta memang siap menjadi musuh siapapun.

Bukan musuh dalam arti ingin menghancurkan.

Melainkan musuh bagi kebiasaan buruk, kemunafikan, kebijakan yang tidak masuk akal, dan budaya yang membuat orang takut berkata jujur.

Saya tidak punya masalah jika kritik saya membuat saya tidak populer.

Saya lebih bermasalah jika demi menjadi populer saya harus mengkhianati apa yang saya yakini.

Saya Masih Menimba Air dari Sumur Itu

Pada akhirnya, saya selalu mengingat satu kalimat:

Saya masih menimba air dari sumur yang sama.

Karena itu saya tidak akan menjadi orang yang sengaja meracuni sumur tersebut hanya karena saya pernah kecewa dengan airnya.

Kalau airnya keruh, saya akan mengatakan keruh.

Kalau sumurnya perlu dibersihkan, saya akan mengatakan perlu dibersihkan.

Kalau cara menimbanya salah, saya akan mengatakan salah.

Tetapi saya tidak akan mengajak semua orang menghancurkan sumur.

Sebab saya masih membutuhkan airnya.

Begitu pula perusahaan.

Saya bisa mengkritik perusahaan tanpa membencinya.

Saya bisa kecewa tanpa menjadi pembenci.

Saya bisa tidak setuju tanpa menjadi musuh.

Dan saya bisa tetap bekerja tanpa harus kehilangan keberanian untuk bersuara.

Mungkin bagi sebagian orang, sikap seperti ini terlihat kontradiktif.

Bagi saya, justru itulah bentuk kedewasaan.

Sebab dunia kerja bukan ruang untuk mencari manusia yang selalu sepakat.

Dunia kerja membutuhkan manusia yang mampu berpikir.

Dan manusia yang mampu berpikir tidak selalu menghasilkan jawaban yang menyenangkan.

Kadang-kadang ia menghasilkan pertanyaan.

Kadang-kadang ia menghasilkan keberatan.

Kadang-kadang ia menghasilkan kritik.

Tetapi dari sanalah perubahan biasanya dimulai.

Kalau Saya Diam, Justru Itu yang Harus Dicurigai

Maka jangan heran jika suatu hari saya mengkritik kebijakan perusahaan.

Jangan buru-buru mengatakan saya membenci.

Jangan buru-buru membawa saya ke kubu tertentu.

Jangan menjadikan kritik saya sebagai bukti bahwa saya ingin perusahaan runtuh.

Bisa jadi justru sebaliknya.

Saya sedang berusaha agar sesuatu yang saya anggap masih berharga tidak berjalan ke arah yang salah.

Saya tidak meminta perusahaan mengikuti seluruh pemikiran saya.

Saya hanya meminta ruang untuk menyampaikan apa yang saya lihat.

Kalau benar, ambil.

Kalau salah, bantah.

Kalau tidak relevan, tinggalkan.

Sederhana.

Tidak perlu menjadikan setiap perbedaan sebagai peperangan.

Sebab organisasi yang dewasa seharusnya mampu membedakan antara orang yang ingin memperbaiki rumah dan orang yang ingin membakar rumah.

Saya mungkin sering menggedor pintu.

Saya mungkin sering mengeluh.

Saya mungkin terkadang berbicara terlalu keras.

Tetapi saya tidak sedang membawa bensin.

Saya membawa koreksi.

Dan kalau suatu hari saya benar-benar diam, mungkin justru saat itulah perusahaan harus bertanya:

“Kenapa orang yang biasanya kritis sekarang tidak lagi peduli?”

Sebab diam tidak selalu berarti setuju.

Terkadang diam adalah tanda bahwa seseorang sudah berhenti berharap.

Dan saya belum sampai di sana.

Saya masih mengkritik karena saya masih peduli.

Saya masih mengeluh karena saya masih melihat sesuatu yang bisa diperbaiki.

Saya masih menimba air dari sumur yang sama.

Maka jangan paksa saya membenci sumur itu.

Cukup izinkan saya berkata ketika airnya mulai keruh.

Karena bagi saya, kritik adalah bentuk kepedulian yang tidak dibungkus dengan kepalsuan.

Dan kalau karena itu saya harus dianggap sebagai musuh oleh siapapun, yah, tidak apa-apa.

Sulit memang menjadi orang yang tidak mau menjadi budak pujian, tetapi juga tidak mau menjadi budak kebencian.

Saya memilih berdiri di tengah.

Bukan karena tidak punya keberanian untuk berpihak.

Tetapi karena saya ingin berpihak kepada kebenaran.

Dan mungkin, itulah harga paling membangun mahal dari membangun Si Fakta.[dit]

Exit mobile version