MESKIPUN kelihatannya kritis, saya mohon maaf, saya bukan orang yang bisa direkrut menjadi tim sukses untuk mengkritik perusahaan supaya beban kerja berkurang, gaji menjadi naik sebulan, tunjangan bertambah, jam kerja dipotong, lalu bonus tetap jalan.
Menyala, Kakanda. Izin guru!
Tapi jangan salah juga.
Saya bukan alat perusahaan untuk kemudian disuruh berkeliling membawa semangat:
“Teman-teman, ayo lebih giat! Jangan banyak mengeluh! Perusahaan membutuhkan perjuangan kalian!”
Menyala, muridku. Izin guru!
Lah, saya ini pekerja atau motivator keliling?
Saya berada di posisi yang sederhana: kalau memang salah, saya kritik. Kalau memang benar, saya akui. Kalau memang perlu diperbaiki, saya dorong. Kalau memang tidak perlu dipermasalahkan, ya sudah, jangan dicari-cari masalahnya.
Kalau kritik harus selalu berujung benci, berarti setiap dokter yang menemukan penyakit pasien juga harus membenci pasiennya.
Tidak begitu cara berpikirnya.
Kritik itu koreksi.
Kebencian itu emosi.
Keduanya bisa berdekatan, tetapi tidak harus menikah.
Yah, dari menciptakan Si Fakta saya memang harus siap menjadi musuh siapapun. Mungkin diawal disenangi tapi ketika tak sejalan maka, yah begitulah.
Satu prinsip yang bagi saya jauh lebih penting daripada sekadar mencari aman: kritik tidak boleh dipaksa berubah menjadi kebencian, dan loyalitas tidak boleh dipaksa berubah menjadi kebisuan.
Saya sering kritis terhadap kebijakan perusahaan. Saya bisa mengeluh, mempertanyakan, bahkan menyampaikan ketidaksetujuan ketika melihat sesuatu yang menurut saya tidak tepat. Namun, apakah itu berarti saya membenci perusahaan?
Tidak.
Justru di situlah letak persoalannya.
Kritik dan kebencian adalah dua hal yang berbeda. Sayangnya, di banyak lingkungan kerja, keduanya sering sengaja dicampuradukkan.
Ketika seseorang mempertanyakan kebijakan, ia segera dicap sebagai pembangkang. Ketika seseorang menyampaikan kekurangan, ia dianggap tidak loyal. Ketika seseorang berani mengatakan sesuatu yang tidak enak didengar, ia dicurigai sedang mencari masalah.
Padahal, perusahaan tidak akan pernah berkembang hanya dengan orang-orang yang selalu mengatakan, “iya”.
Perusahaan membutuhkan orang yang berani mengatakan, “tunggu, ini perlu diperbaiki.”
Bagi saya, itulah fungsi kritik.
Saya juga tidak mudah dibawa masuk ke dalam kelompok orang yang menjadikan kritik sebagai kendaraan untuk membenci perusahaan.
Sebab saya sadar satu hal: saya masih menimba air dari sumur yang sama.
Kalimat itu sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat dalam.
Kalau saya masih bekerja, masih mendapatkan pengalaman, masih memperoleh penghasilan, masih belajar, masih mendapatkan ruang untuk tumbuh, dan masih mengambil manfaat dari keberadaan perusahaan, maka saya tidak akan berpura-pura menjadi pahlawan yang seolah-olah seluruh perusahaan adalah sumber masalah.
Saya tahu tempat saya.
Saya tahu apa yang saya terima.
Saya tahu pula apa yang perlu saya kritik.
Karena itu saya tidak tertarik menjadi bagian dari gerakan kebencian terhadap perusahaan.
Kritik saya bukan senjata untuk menghancurkan tempat saya sendiri.
Kritik saya adalah cermin.
Kalau ada kebijakan yang keliru, saya katakan keliru. Kalau ada sistem yang tidak efektif, saya katakan tidak efektif.
Kalau ada keputusan yang merugikan perkembangan, saya pertanyakan. Kalau ada sesuatu yang seharusnya diperbaiki, saya sampaikan.
Tetapi setelah itu, saya tetap bekerja.
Sebab saya tidak sedang mencari kehancuran.
Saya sedang mencari perbaikan.
Bagi saya, orang yang mengkritik perusahaan tetapi tetap ingin perusahaan tersebut tumbuh justru memiliki posisi yang jauh lebih sehat daripada orang yang setiap hari tersenyum di depan, tetapi diam-diam mengumpulkan kebencian di belakang.
Saya lebih memilih menjadi orang yang mungkin dianggap menyebalkan karena terlalu banyak bertanya, daripada menjadi orang yang terlihat loyal tetapi sebenarnya hanya sedang menunggu kesempatan untuk menjatuhkan.
Ada kebiasaan yang mungkin tidak semua orang sukai dari saya.
Kalau ada yang tidak saya suka, saya lebih senang menyampaikannya di depan.
Saya tidak terlalu pandai memainkan politik bisik-bisik.
Kalau ada kebijakan yang membuat saya tidak nyaman, saya akan mengatakan ketidaknyamanan itu kepada orang yang memang memiliki kewenangan untuk mendengar.
Kalau ada keputusan yang menurut saya salah, saya akan bertanya mengapa.
Kalau ada sistem yang menurut saya tidak masuk akal, saya akan mempertanyakannya.
Bukan karena saya ingin terlihat berani.
Tetapi karena saya percaya, keluhan yang disampaikan di depan masih memiliki peluang untuk menjadi perbaikan; sementara keluhan yang hanya dibicarakan di belakang sering kali berubah menjadi racun.
Saya tidak ingin menjadi orang yang setiap hari mengangguk di ruang rapat, lalu setelah keluar ruangan mulai membicarakan keburukan perusahaan kepada orang lain.
Menurut saya, itu bukan keberanian.
Itu hanya dua wajah.
Kalau saya salah, silakan bantah saya.
Kalau argumen saya keliru, silakan koreksi.
Kalau kritik saya tidak berdasar, tunjukkan datanya.
Saya tidak keberatan.
Yang saya tidak suka adalah ketika kritik dibalas dengan pelabelan.
“Tidak loyal.”
“Pembangkang.”
“Pembuat masalah.”
“Tidak tahu diri.”
Dan berbagai label lain yang sebenarnya tidak menjawab substansi persoalan.
Sebab ketika kritik dijawab dengan label, biasanya orang sudah mulai kehabisan argumen.
Padahal, persoalan sebenarnya bukan siapa yang berbicara.
Persoalannya adalah apa yang sedang dibicarakan.
Jangan Jadikan Kritik Sebagai Bukti Kebencian
Saya pikir perusahaan yang sehat bukanlah perusahaan yang tidak pernah dikritik.
Perusahaan yang sehat adalah perusahaan yang mampu menerima kritik tanpa merasa harga dirinya sedang diserang.
Pemimpin yang sehat bukan pemimpin yang selalu mendapatkan pujian.
Pemimpin yang sehat adalah pemimpin yang mampu mendengar orang yang tidak setuju dengannya.
Sebab dalam sebuah organisasi, terlalu banyak orang yang selalu sepakat justru bisa menjadi bahaya.
Ketika semua orang takut berkata jujur, kesalahan akan tumbuh dalam diam.
Ketika semua orang takut mempertanyakan keputusan, kebijakan yang buruk bisa dianggap sebagai kebenaran.
Ketika semua orang memilih aman, perusahaan mungkin terlihat tenang, tetapi sebenarnya sedang kehilangan kemampuan untuk melakukan koreksi.
Saya tidak ingin menjadi bagian dari budaya seperti itu.
Saya ingin tetap bisa mengatakan apa yang menurut saya benar, meskipun terkadang membuat orang lain tidak nyaman.
Tetapi saya juga tidak ingin kebebasan berbicara saya dipakai sebagai alasan untuk membenci perusahaan.
Karena saya memiliki batas.
Saya bisa keras terhadap kebijakan, tetapi tidak harus membenci orangnya.
Saya bisa menolak keputusan, tetapi tidak harus memusuhi institusinya.
Saya bisa menyampaikan kekurangan, tetapi tidak harus menghancurkan reputasinya.
Saya bisa mengatakan, “ini salah”, sambil tetap mengatakan, “mari kita perbaiki.”
Itulah perbedaan antara kritik dan kebencian.
Jangan Bawa Saya ke Ranah yang Salah
Karena itu, kalau ada yang mencoba membawa saya masuk ke dalam sebuah ranah dengan cara menjadikan kritik saya sebagai bahan untuk membangun kebencian terhadap perusahaan, saya akan memilih mundur.
Bukan karena takut.
Tetapi karena saya tahu arah yang saya inginkan.
Saya tidak mau menjadi alat bagi kepentingan orang lain.
Saya tidak mau kritik saya dipelintir menjadi permusuhan.
Saya tidak mau kalimat saya dipotong untuk kemudian dipakai sebagai amunisi.
Dan saya tidak mau seseorang datang membawa cerita tentang keburukan perusahaan, lalu mengajak saya ikut membenci, sementara saya sendiri masih mendapatkan banyak hal dari tempat tersebut.
Itu tidak adil.
Bagi perusahaan, tidak adil.
Bagi saya, juga tidak jujur.
Saya mungkin keras dalam menyampaikan kritik, tetapi saya tidak ingin kehilangan akal sehat.
Saya mungkin sering mengeluh, tetapi saya tidak ingin menggigit tangan yang masih memberi saya kesempatan untuk hidup.
Saya mungkin tidak selalu setuju, tetapi saya tidak akan pura-pura bahwa seluruh kebijakan perusahaan adalah buruk.
Sebab dunia tidak sesederhana itu.
Tidak ada institusi yang sempurna.
Tidak ada perusahaan yang seluruh kebijakannya benar.
Tidak ada pemimpin yang selalu tepat.
Dan tidak ada pekerja yang selalu berada di posisi paling benar.
Karena itu, yang kita perlukan bukan fanatisme.
Yang kita perlukan adalah kedewasaan.
