Seni Bertahan dalam Pernikahan di Era Pekerjaan Semuanya WFH

Seni Bertahan dalam Pernikahan di Era Pekerjaan Semuanya WFH/(infografis/@Faktanasional.net)

Ada waktu untuk sendiri.

Ada waktu untuk pasangan.

Ada waktu untuk anak.

Dan ada waktu untuk sekadar diam tanpa harus menjelaskan apa pun.

Pernikahan bukan penjara yang membuat dua orang kehilangan ruang pribadi. Pernikahan seharusnya menjadi rumah tempat dua manusia tetap bisa menjadi dirinya sendiri, sambil belajar bertumbuh bersama.

Mungkin selama ini kita terlalu sibuk bertanya, “Apa yang sudah pasangan saya berikan kepada saya?”

Padahal pertanyaan yang lebih sulit adalah, “Apa yang sudah saya berikan kepada pernikahan ini?”

Bukan hanya uang.

Bukan hanya nafkah.

Bukan hanya pekerjaan rumah.

Tetapi juga perhatian, penghargaan, kesempatan untuk bicara, kesempatan untuk diam, dan kesempatan untuk merasa aman.

Saya pun sedang belajar.

Saya tidak menganggap diri saya sudah menemukan formula sempurna untuk mempertahankan rumah tangga. Justru saya sedang berada di tengah proses itu sendiri.

Saya bekerja.

Saya menulis.

Saya belajar.

Saya mengamati kehidupan.

Dan di sela semuanya, saya mencoba memahami kembali arti menjadi suami, menjadi ayah, sekaligus menjadi manusia yang tetap memiliki kehidupan dan tanggung jawab pribadi.

Kalau akhirnya pernikahan ini bisa diperbaiki, saya ingin itu terjadi bukan karena ketakutan kehilangan.

Saya ingin itu terjadi karena kami sama-sama menemukan alasan untuk kembali memilih satu sama lain.

Dan kalau saya boleh mengambil satu pelajaran dari keadaan ini, mungkin begini:

Jangan tunggu rumah tangga hampir runtuh untuk belajar bagaimana cara menjaganya.

Karena banyak orang baru belajar menghargai rumah setelah kehilangan rasa nyaman di dalamnya.

Saya tidak mau menjadi orang seperti itu.

Saya tidak mau kalah dengan keadaan.

Kalaupun hidup sedang mengajari saya dengan cara yang keras, setidaknya saya ingin pulang dari pelajaran ini sebagai manusia yang lebih mengerti.

Sebab pada akhirnya, mempertahankan pernikahan bukan hanya tentang mempertahankan status “suami” dan “istri”.

Lebih dalam dari itu, ia adalah usaha mempertahankan rasa bahwa di tengah dunia yang semakin ramai, masih ada seseorang yang kita pilih untuk menjadi tempat pulang.

Dan mungkin, seni bertahan yang sebenarnya bukanlah bagaimana kita tidak pernah jatuh.

Melainkan bagaimana setelah jatuh, kita masih punya keberanian untuk bertanya:

“Apa yang masih bisa saya perbaiki sebelum benar-benar saya lepaskan?”[dit]

Exit mobile version