Seni Bertahan dalam Pernikahan di Era Pekerjaan Semuanya WFH

Seni Bertahan dalam Pernikahan di Era Pekerjaan Semuanya WFH/(infografis/@Faktanasional.net)

KALAU sudah bicara soal harta dan tahta, saya cuma bisa tertawa. Bukan karena saya sudah berhasil menaklukkan keduanya, justru sebaliknya: saya sudah pernah “ketelan” oleh persoalan hidup yang membuat saya sadar bahwa manusia sering kali terlalu sibuk mengejar sesuatu yang belum tentu membuat rumahnya tetap utuh.

Karena itu, kali ini saya tidak ingin membahas harta atau tahta. Saya ingin membahas sesuatu yang jauh lebih sederhana, tetapi sering kali jauh lebih sulit: seni bertahan dalam pernikahan.

Pernikahan bagi saya bukan sekadar tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Ia juga bukan pertandingan tentang siapa yang paling banyak berkorban. Pernikahan adalah ruang panjang tempat dua manusia belajar memahami bahwa hidup bersama membutuhkan lebih dari sekadar cinta.

Ada waktu, tenaga, kesabaran, komunikasi, tanggung jawab, dan yang paling sering saya lupakan: efek kebersamaan setiap waktu.

Saya menyadari sesuatu ketika saya banyak menulis dan bekerja dari rumah atau WFH. Secara pekerjaan, semuanya mungkin berjalan baik. Laptop menyala, tulisan selesai, pekerjaan dikirim, rapat dilakukan, target dikejar. Tetapi ternyata ada satu hal yang tidak otomatis selesai hanya karena pekerjaan selesai: kehadiran kita sebagai pasangan dan sebagai bagian dari keluarga.

Bekerja dari rumah kadang membuat batas antara “saya sedang bekerja” dan “saya sedang berada di rumah” menjadi kabur.

Secara fisik kita ada di rumah, tetapi secara mental berada di depan laptop. Secara status kita bersama keluarga, tetapi pikiran sedang mengejar deadline. Akhirnya keluarga melihat kita setiap hari, tetapi belum tentu merasakan kehadiran kita.

Ini paradoks yang menarik.

Kita bisa berada di rumah sepanjang hari, tetapi terasa seperti tidak pernah benar-benar pulang.

Rumah tangga saya sendiri sedang berada di ambang perpisahan. Saya tidak ingin menutup-nutupi kenyataan itu dengan kata-kata manis. Tetapi saya juga tidak mau menyerah hanya karena keadaan sedang tidak baik.

Justru dalam keadaan seperti ini saya merasa perlu belajar lebih banyak.

Saya belajar bahwa mempertahankan rumah tangga bukan berarti memaksakan sesuatu yang sudah tidak sehat. Bertahan juga bukan berarti seseorang harus terus-menerus mengalah sampai kehilangan dirinya sendiri.

Bertahan, bagi saya, adalah keberanian untuk melihat apa yang masih bisa diperbaiki.

Dan dari situ saya menemukan satu cara sederhana yang mungkin terlihat aneh bagi sebagian orang.

Meskipun saya bekerja WFH, saya tetap “ngantor” dalam versi kehidupan saya sendiri.

Malam hari saya pulang ke rumah istri saya. Pagi hari saya berangkat kerja ke rumah lama saya.

Secara teknis, saya sebenarnya hanya berpindah lokasi untuk bekerja. Tetapi secara psikologis, perubahan kecil itu memberikan batas yang sangat penting.

Ketika saya berada di rumah untuk keluarga, saya ingin keluarga merasakan bahwa saya memang sedang pulang.

Ketika saya berada di tempat kerja, saya bekerja.

Sederhana.

Tetapi ternyata kehidupan membutuhkan batas-batas seperti itu.

Saya tidak ingin orang di rumah hanya melihat saya sebagai manusia yang bangun, makan, tidur, kemudian membuka laptop lagi.

Saya ingin istri dan anak melihat bahwa saya tetap mempunyai aktivitas, tanggung jawab, pekerjaan, dan perjuangan.

Bukan karena saya ingin terlihat sibuk.

Tetapi karena saya ingin menunjukkan bahwa hidup saya tidak berhenti hanya karena kondisi rumah tangga sedang tidak baik.

Ada perbedaan antara tinggal di rumah dan hadir di rumah.

Begitu juga ada perbedaan antara bekerja dari rumah dan membawa pekerjaan masuk ke seluruh kehidupan rumah tangga.

Kadang kita mengira keluarga membutuhkan kita sepanjang waktu. Padahal yang mereka butuhkan bukan selalu jumlah waktu yang banyak, melainkan kualitas kehadiran yang terasa.

Lima jam bersama tetapi masing-masing sibuk dengan dunia sendiri mungkin kalah bermakna dibanding satu jam berbicara tanpa gangguan.

Saya mulai memahami bahwa “efek bersama setiap waktu” tidak berarti kita harus menempel terus-menerus.

Justru kebersamaan yang sehat membutuhkan ruang.

Ada waktu untuk bekerja.

Exit mobile version