Opini  

NTT Berduka, Jakarta Berpesta

NTT Berduka, Jakarta Berpesta/(Foto Ai hanya ilustrasi)

Pemerintah kemudian membersihkan Monas sejak dini hari.

Di NTT, puluhan ribu orang belum pulang. Bukan karena macet. Mereka memang tak punya rumah untuk dituju.

Jangan salah. Bantuan bergerak. 101.494 kilogram logistik, 50.000 paket sembako, tenda keluarga, obat-obatan, genset. Hercules bolak-balik Halim–Labuan Bajo–Maumere.

Ada santunan Rp14,65 miliar: Rp15 juta per ahli waris dan Rp5 juta bagi korban luka berat. BNPB menyiapkan Rp500 miliar, dengan sekitar Rp5 triliun untuk penanganan bencana.

China dan Iran menawarkan bantuan. Pemerintah mengatakan belum diperlukan. Semua masih bisa ditangani. Semoga benar. Sebab bumi belum berhenti marah.

Gempa susulan mencapai 2.119 kali. Tsunami 0,94 meter tercatat di Maurole, Ende.

Di Labuan Bajo, wisatawan dievakuasi. Sementara warga lokal tak punya tiket pesawat masih menggali puing rumah sendiri.

Di Jakarta, menteri berjoget. Di Flores, ibu-ibu menangis.

Di Jakarta, drone menari. Di Flores, tanah menari tanpa belas kasihan.

Di Jakarta, kembang api pecah di langit. Di NTT, keluarga memecah sunyi dengan doa.

Selamat Hari Kemerdekaan, Indonesia. Lebih dari 300 ribu orang berpesta di ibu kota, sementara 40.040 saudara sebangsa tidur di pengungsian.

Di sana, seorang anak mungkin bertanya, “Papa kapan pulang?”

Tak ada kembang api yang mampu menjawab. Denting karang di timur terus terdengar. Sayangnya, pesta di barat jauh lebih nyaring.

Duh, sedih. Seruput Koptagul ajalah, wak!

Penulis: Rosadi Jamani

Exit mobile version