Ente Riset Semalam Suntuk atau Pakai AI, Kok Bilang Indonesia Krisis SDM?

Ente Riset Semalam Suntuk atau Pakai AI, Kok Bilang Indonesia Krisis SDM?/(Ilustrasi)

KALIMAT “Indonesia sedang mengalami krisis SDM” belakangan terdengar gagah. Diucapkan dengan wajah serius, nada penuh keyakinan, lalu ditutup dengan ekspresi seolah baru saja pulang dari seminar internasional. Rupamu seperti malaikat, oh… si paling heroisme.

Tapi tunggu dulu. Ente riset semalam suntuk sampai mata panda, atau cukup buka AI, ketik “mengapa Indonesia krisis SDM”, lalu tinggal copy-paste?

Sebab menyebut Indonesia mengalami krisis sumber daya manusia bukan perkara sederhana. Jangan sampai kita sedang mengalami persoalan sosial dan politik, tetapi diagnosisnya malah salah kamar.

Menurut saya, Indonesia tidak kekurangan orang cerdas. Kita punya banyak anak muda dengan kemampuan akademik, kreativitas, gagasan, keberanian, dan potensi luar biasa.

Banyak yang mampu berpikir kritis, menciptakan inovasi, bekerja keras, bahkan berprestasi tanpa fasilitas mewah.

Masalahnya justru bisa berada pada ruang yang menentukan siapa yang diberi kesempatan untuk tumbuh dan siapa yang harus minggir.

Di sinilah persoalan menjadi lebih serius.

Ketika uang, jabatan, koneksi, keluarga, dan kekuasaan terlalu dominan dalam menentukan kesempatan, maka orang hebat yang tidak punya “orang belakang” bisa saja kalah sebelum bertanding.

Anak dari keluarga berada memiliki akses pendidikan yang lebih luas. Mereka bisa mendapatkan fasilitas, jaringan, dan peluang yang tidak selalu dimiliki anak dari keluarga sederhana.

Ini bukan kesalahan mereka. Yang menjadi persoalan adalah ketika sistem tidak mampu memastikan bahwa kompetisi berlangsung secara adil.

Bahkan dunia pendidikan pun tidak boleh kebal dari kritik.

Kalau nilai, penghargaan, perlombaan, jabatan, atau kesempatan mulai lebih dekat kepada kepentingan daripada kemampuan, maka kita bukan sedang membangun budaya meritokrasi. Kita sedang membangun olimpiade koneksi.

Yang satu belajar bertahun-tahun.

Yang satu belajar bagaimana menelepon orang yang tepat.

Lalu kita heran mengapa yang kedua menang.

Lucu? Iya.