SAMPAI masanya ada jenis pengetahuan yang membuat seseorang semakin banyak bicara.
Ada pula pengetahuan yang justru membuat seseorang lebih banyak mendengar.
Yang pertama mungkin membuat kita terlihat pintar. Namun, yang kedua sering kali menunjukkan kedewasaan.
Pengetahuan tertinggi bukan selalu tentang seberapa banyak buku yang telah dibaca, gelar yang berhasil diraih, atau seberapa luas seseorang memahami dunia.
Pengetahuan yang lebih dalam justru muncul ketika manusia mampu menyadari satu hal sederhana: dirinya tidak selalu lebih baik daripada orang lain.
Kesadaran tersebut bukan berarti merendahkan diri. Bukan pula ajakan untuk kehilangan kepercayaan diri.
Sebaliknya, ini adalah bentuk pengenalan diri yang sehat.
Kita memahami bahwa setiap manusia memiliki kelebihan, kekurangan, pengalaman, kesempatan, dan perjuangan yang berbeda.
Dalam kehidupan sosial, perasaan lebih unggul dapat muncul tanpa disadari.
Seseorang merasa lebih berpendidikan karena memiliki gelar.
Orang lain merasa lebih sukses karena mempunyai kekayaan.
Ada pula yang merasa lebih bermoral karena menganggap dirinya lebih benar dibandingkan orang di sekitarnya.
Masalahnya, ukuran tersebut sering kali hanya melihat permukaan.
Kita tidak pernah benar-benar mengetahui seluruh perjalanan hidup seseorang.
Orang yang hari ini terlihat gagal mungkin sedang berjuang menghadapi keadaan yang tidak pernah kita rasakan.
Seseorang yang pendiam bukan berarti tidak memiliki pengetahuan.
Orang yang sederhana bukan berarti tidak mempunyai kemampuan.
Karena itu, kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain perlu dikendalikan.
Perbandingan yang berlebihan dapat melahirkan kesombongan ketika kita berada di atas, sekaligus rasa rendah diri ketika berada di bawah.
Manusia akhirnya terjebak dalam perlombaan yang sebenarnya tidak pernah selesai.
Jangan terburu-buru membuat kesimpulan hanya berdasarkan apa yang terlihat.
