Namun, bukti ilmiah yang menghubungkan skizofrenia dengan kejahatan kekerasan belum jelas. Beberapa penelitian yang mengkaji hubungan antara psikosis dan kekerasan menunjukkan adanya hubungan yang kuat.
Sementara itu, penelitian lain memberikan bukti yang lemah atau bahkan tidak ada bukti sama sekali bahwa penderita skizofrenia cenderung melakukan kekerasan.
Salah satu masalah besar dalam penelitian di bidang itu adalah memisahkan skizofrenia dari dampak berbagai kesulitan lain yang sering dialami penderitanya. Penyalahgunaan zat dianggap sebagai salah satu faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan risiko kekerasan pada penderita skizofrenia.
Dari 20 studi di Inggris yang diterbitkan di PLOS (Public Library of Science) Medicine, organisasi nirlaba di Inggris, pada 2009, meneliti hubungan antara psikosis, penyalahgunaan zat, dan kekerasan.
Hasilnya, sebagian besar peningkatan risiko kekerasan disebabkan penyalahgunaan zat. Para penulis studi itu menyimpulkan bahwa kebijakan yang dirancang untuk mengendalikan kekerasan harus berfokus pada penyalahgunaan zat daripada psikosis.
Namun, studi yang sama meneliti sejumlah kecil studi yang berfokus pada pembunuhan dan bukan kekerasan yang kurang serius.
Hasilnya menunjukkan bahwa orang yang menderita psikosis –dengan atau tanpa penyalahgunaan zat– hampir 20 kali lebih mungkin membunuh orang lain daripada yang diperkirakan pada populasi umum.
Bukti-bukti tampaknya mendukung ketakutan publik terhadap penderita skizofrenia. Dengan demikian, tidak mengherankan jika warga menyerukan agar pembuat kebijakan mengurangi risiko itu dengan menerapkan kontrol yang lebih ketat terhadap orang-orang yang menderita penyakit mental.
Masalahnya adalah pembunuhan sangat jarang terjadi baik pada pelaku yang menderita skizofrenia maupun yang tidak.
Banyak penderita skizofrenia, yang tidak menimbulkan ancaman bagi siapa pun, harus ditahan demi mencegah satu insiden kekerasan serius saja.
Akibatnya, potensi kerugian finansial dan sosial yang sangat besar, dalam bentuk hilangnya kebebasan bagi banyak orang yang tidak bersalah, dapat terjadi.
Masalah merancang metode yang sempurna untuk menentukan siapa yang harus ditahan dan siapa yang harus dibiarkan bebas mungkin tidak akan pernah terselesaikan karena kompleksitas penyebab dari setiap episode kekerasan.
Maka, perhatian kita tertuju pada kegagalan-kegagalan tragis dan terkenal dalam penanganan penderita skizofrenia yang melakukan pembunuhan. Namun, perhatian kita tidak pernah tertuju pada ribuan orang di seluruh Inggris yang menderita skizofrenia, tetapi menjalani kehidupan yang bahagia dan produktif.
Penanganan yang sukses terhadap penderita skizofrenia di Inggris tidak pernah diberitakan di media massa. Namun, kurangnya fokus pada aspek-aspek positif dan efektif dari dukungan saat ini untuk penderita gangguan jiwa dapat berarti warga kehilangan pelajaran berharga tentang bagaimana menghindari tragedi di masa depan.
Proses Pembunuhan Driver Taksi Online di Deli Serdang
Disebutkan, sangat sedikit perhatian warga Inggris pada seberapa efektif layanan psikiatri dalam mengurangi dampak buruk atau aspek spesifik mana dari manajemen atau pengobatan pasien yang membantu penderita skizofrenia untuk tetap terhindar dari rawat inap dan masalah.
Jadi, dalam hal pembunuhan, pengidap skizofrenia sama saja dengan orang tanpa gangguan jiwa. Sama-sama bisa. Bergantung, apa pemicu agresi yang kemudian berakhir dengan pembunuhan.
Ulasan Watt itu menekankan, pengidap skizofrenia yang ditangani ahli medis di Inggris tidak harus selalu dikurung demi menghindari pembunuhan. Pengidap tertentu bisa saja dilakukan rawat jalan, dan aman. Pengidapnya juga gembira.
Dibandingkan di Indonesia, umumnya masyarakat kita tidak paham bahwa anggota keluarganya mengidap skizofrenia. Atau, bagi warga miskin, mereka paham ada sesuatu yang tidak beres pada anggota keluarga mereka. Tapi, mereka tidak mampu secara ekonomi untuk mengobatinya.
Gejala halusinasi atau waham pada seseorang sering dianggap biasa oleh sebagian besar masyarakat kita. Malah, bisa dianggap terkait dengan hal-hal mistis. Hal itu berbelok jauh dari kondisi sebenarnya, sakit mental.
Di kasus pembunuhan di Takalar itu, ada saksi yang mengatakan bahwa pelaku baru saja minum balo atau tuak. Bisa jadi pelaku mabuk. Orang tanpa gangguan jiwa pun bisa dengan gampang membunuh orang lain akibat mabuk alkohol.
Bagian otak pemabuk yang disebut korteks prefrontal kehilangan (atau memudar) fungsi. Bagian itu seharusnya berfungsi, antara lain, memprediksi konsekuensi di masa depan, mengontrol impuls emosional, dan membuat keputusan moral atas tindakan. Buat pemabuk, bagian itu tumpul.
Apalagi, bagi pengidap skizofrenia yang sakit mental. (*)
