John Ratcliffe adalah kepala badan intelijen AS yang berkunjung ke Rusia pertama kali setelah pecah perang di Ukraina antara Rusia melawan NATO Febuari 2022.
Kunjungan terakhir kepala CIA ke Moskow adalah tahun 2021 saat masih dijabat oleh William Burn, yang juga pernah menjabat sebagai Dubes AS untuk Rusia dimasa lalu.
Kunjungan John Ratcliffe membawa pesan yang sangat jelas, konfrontasi militer Antara Rusia dengan negara NATO semakin dekat. Dan AS sedang berusaha menghindari konfrontasi ini.
Selain itu, Ratcliffe juga membawa pesan ke Putin dari Trump, ajakan Trump ke Putin agar mengadakan pertemuan antara Trump – Putin – Zelensky dalam waktu dekat.
Kepala CIA juga mewarning Putin agar jangan sampai menyerang negara NATO, ini kaitannya dengan semakin intensifnya keterlibatan secara langsung negara NATO dalam pernah di Ukraina.
Negara NATO yang dimaksud adalah Inggris dan beberapa negara yang berbatasan langsung dengan Rusia. Inggris baru baru ini memberikan izin kepada Ukraina untuk transfer teknologi produksi rudal hipersonik canggih Strom Shadow buatan inggris yang sejak 2023 lalu telah dipakai untuk menyerang Rusia.
Putin diyakini oleh CIA akan meluncurkan serangan ke negara NATO apabila keterlibatan mereka di Ukraina semakin tak terkendali. John Ratcliffe membawa pesan Trump ke Putin lewat kepala badan intelijen Rusia.
Hampir 5 tahun perang di Ukraina, media media Barat terus memberitakan persatuan NATO, kekuatan NATO, dan kehebatan NATO di Ukraina melawan Rusia.
Fakta ini bertentangan dengan realitas di lapangan, Ukraina semakin hancur, ratusan ribu prajurit mati konyol, 25% tanah Ukraina telah direbut oleh Rusia di depan mata kekuatan militer NATO.
Sebaliknya, para pendukung Ukraina dari barisan negara negara NATO mengalami devisit angggaran, NATO dan Brussel kehabisan uang untuk membiayai perang yang tidak perlu di Ukraina. AS sendiri berangsur angsur terus menghentikan dana ke Ukraina.
Ukraina butuh puluhan miliar dolar pertahun hanya untuk survive sebagai negara dan agar tidak hilang dari peta. Dan uang itu berangsur kering dengan krisis ekonomi yang dialami negara negara eropa saat ini.
Rusia memahami kondisi di lapangan, Rusia memang sangat berdarah darah melawan NATO, ini sangat wajar, satu negara dikeroyok puluhan negara yang dipimpin oleh koalisi AS.
Rusia meminta bantuan Korea Utara dan joint kerjasama alutsista dengan Iran dan China. Rusia menerima pasokan drone dari Iran, pasukan dari Korut, dan teknologi juga intelijen dari Tiongkok.
Trump sadar betul bahwa perang di Ukraina tidak bisa dimenangkan, Putin terlalu kuat dan benar benar paham GeoPolitik dan logika konfrontasi dengan Barat yang sudah lama dipelajari.
