Dunia Tidak Pernah Berjanji Membuatmu Bahagia

Dunia Tidak Pernah Berjanji Membuatmu Bahagia/ilustrasi

Kesuksesan yang membuat seseorang semakin jauh dari Allah bukanlah kesuksesan yang layak dirayakan tanpa evaluasi.

Semakin besar nikmat yang diterima, semakin besar pula tanggung jawab moral yang menyertainya.

Harta memiliki pertanggungjawaban.

Ilmu memiliki pertanggungjawaban.

Jabatan memiliki pertanggungjawaban.

Bahkan pengaruh yang kita miliki terhadap orang lain pun memiliki konsekuensi.

Karena itu, saya percaya ukuran keberhasilan seorang Muslim tidak cukup dilihat dari apa yang berhasil ia kumpulkan, tetapi juga dari apa yang berhasil ia manfaatkan untuk kebaikan.

Barangkali Kita Tidak Kekurangan, Hanya Terlalu Banyak Membandingkan

Masalah berikutnya datang dari kebiasaan yang semakin sulit kita hindari: membandingkan hidup.

Media sosial membuat kehidupan orang lain dapat masuk ke dalam genggaman hanya melalui sebuah layar.

Kita melihat rumah orang lain.

Kita melihat kendaraannya.

Kita melihat perjalanannya.

Kita melihat pencapaiannya.

Kita melihat penghargaan yang diterimanya.

Kita melihat kesuksesan bisnisnya.

Kemudian tanpa sadar kita melihat kehidupan sendiri dan merasa tertinggal.

Padahal yang kita lihat hanyalah potongan.

Kita melihat hasil akhirnya, bukan seluruh prosesnya.

Kita melihat senyumnya, tetapi tidak tahu apa yang ia tanggung ketika sendirian.

Kita melihat pencapaiannya, tetapi tidak tahu berapa banyak kegagalan yang pernah ia lewati.

Lebih buruk lagi, kita mulai menjadikan kehidupan orang lain sebagai standar untuk mengukur nikmat yang Allah berikan kepada kita.

Menurut saya, di sinilah rasa syukur perlahan kehilangan tempat.

Bukan karena kita benar-benar tidak mempunyai apa-apa, melainkan karena perhatian kita terus diarahkan kepada apa yang belum kita miliki.

Padahal kehidupan setiap orang mempunyai jalan yang berbeda.

Ada yang diberi kelapangan lebih dahulu.

Ada yang harus melewati kesulitan sebelum menemukan kemudahan.

Ada yang mendapatkan apa yang diinginkan dengan cepat.

Ada pula yang harus menunggu bertahun-tahun.

Membandingkan takdir kita dengan takdir orang lain adalah perlombaan yang tidak akan pernah selesai.

Yang lebih penting adalah bertanya kepada diri sendiri:

Apakah hari ini saya lebih jujur daripada kemarin?

Apakah saya lebih sabar?

Apakah saya lebih bersyukur?

Apakah saya lebih bermanfaat bagi orang lain?

Apakah hubungan saya dengan Allah semakin baik?

Pertanyaan semacam itu mungkin tidak mendapatkan banyak “like”, tetapi jauh lebih menentukan kualitas hidup kita.

Pada Akhirnya, Semua Akan Ditinggalkan

Saya tidak sedang mengajak siapa pun menjadi anti terhadap dunia.

Justru saya ingin mengatakan sebaliknya: jalani dunia dengan baik, tetapi jangan kehilangan tujuan karena dunia.

Bekerjalah.

Carilah rezeki yang halal.

Bangunlah usaha.

Belajarlah.

Kejar cita-cita.

Nikmati apa yang Allah berikan.

Tetapi jangan lupa bahwa semuanya adalah titipan.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang sementara dan memperdaya.

Gambaran tentang dunia yang tumbuh, menguning, lalu hancur menunjukkan betapa cepat sesuatu yang tampak kuat berubah menjadi masa lalu.

Rumah yang kita banggakan suatu hari akan ditinggalkan.

Jabatan yang kita pertahankan suatu hari akan berpindah.

Harta yang kita kumpulkan suatu hari akan menjadi milik orang lain.

Nama yang kita bangun suatu hari akan dilupakan.

Dan tubuh yang selama ini kita rawat pada akhirnya akan kembali kepada tanah.

Maka pertanyaan terpenting dalam hidup bukanlah:

“Seberapa banyak yang berhasil saya kumpulkan?”

Melainkan:

“Seberapa banyak kebaikan yang berhasil saya tinggalkan?”

Di situlah menurut saya kita perlu mengubah cara memandang kesuksesan.

Kita boleh kaya, tetapi jangan menjadi budak kekayaan.

Kita boleh berkuasa, tetapi jangan kehilangan kerendahan hati.

Kita boleh terkenal, tetapi jangan haus pengakuan.

Kita boleh memiliki dunia sebanyak yang Allah titipkan, tetapi jangan sampai dunia memiliki hati kita.

Sebab pada akhirnya, yang kita bawa bukanlah seberapa mahal rumah yang pernah kita tempati, seberapa tinggi jabatan yang pernah kita duduki, atau seberapa banyak manusia mengenal nama kita.

Yang menjadi bekal adalah amal, akhlak, keikhlasan, dan hubungan kita dengan Allah.

Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencari kebahagiaan di luar diri.

Kita mengira kebahagiaan akan datang bersama angka yang lebih besar, jabatan yang lebih tinggi, rumah yang lebih megah, atau pengakuan yang lebih luas.

Padahal bisa jadi persoalannya bukan karena kita belum memiliki cukup banyak.

Kita hanya terlalu sering meminta kepada dunia sesuatu yang memang tidak pernah mampu diberikannya.

Dunia tidak pernah berjanji membuat kita bahagia.

Dunia hanya menyediakan tempat bagi kita untuk menjalani amanah.

Karena itu, mungkin yang perlu kita kejar bukan lagi sekadar kehidupan yang terlihat berhasil, tetapi kehidupan yang ketika dijalani membuat hati semakin dekat kepada Allah.

Sebab kebahagiaan bukan selalu ketika semua yang kita inginkan berada di tangan.

Terkadang kebahagiaan justru ketika hati tetap tenang saat mendapatkan sesuatu, tetap sabar ketika kehilangan sesuatu, dan tetap percaya kepada Allah ketika kehidupan tidak berjalan sesuai rencana.

Kita boleh memiliki dunia. Tetapi jangan sampai dunia memiliki kita.

Sebab dunia adalah tempat singgah.

Dan pada akhirnya, kita semua akan pulang.[dit]

Exit mobile version