Saldo Rp50 Ribu untuk 200 Juta Orang, Hitungannya Rp10 Triliun, Mengapa Anggaran Rp11 Triliun?

Saldo Rp50 Ribu untuk 200 Juta Orang, Hitungannya Rp10 Triliun, Mengapa Anggaran Rp11 Triliun?/fkn

Airlangga mengatakan, “Otomatis dapat. Nanti kita kerja sama dengan Dukcapil ya, mengenai data-data ini kayaknya.”

Secara konsep, gagasan tersebut menarik. Masyarakat tidak dipaksa antre membawa map, fotokopi KTP, materai, dan dokumen yang kadang membuat pembukaan rekening terasa seperti mendaftar menjadi calon menantu keluarga besar.

Tetapi otomatis bukan berarti tanpa persoalan.

Pemerintah tetap perlu memastikan data benar, rekening tidak ganda, mekanisme pencairan jelas, serta masyarakat memahami bagaimana rekening itu digunakan. Perlindungan data pribadi juga tidak boleh menjadi catatan kaki.

Jangan sampai rekeningnya otomatis, tetapi kebingungannya manual.

Ada pula batasan yang harus diperhatikan. Saldo tersebut tidak boleh digunakan untuk kegiatan ilegal, termasuk perjudian online. Airlangga bahkan menegaskan, “Nah, kalau judol kan langsung ditangkap.”

Peringatan itu penting. Rekening publik jangan berubah menjadi pintu masuk transaksi yang justru merugikan pemiliknya.

Pada akhirnya, polemik Rp50 ribu bukan sekadar soal kecil atau besar nominal.

Netizen boleh bercanda. Pemerintah juga tidak perlu baper.

Justru candaan tersebut bisa menjadi pengingat bahwa setiap rupiah APBN selalu punya mata publik yang mengawasi.

Kalau program ini berhasil membuat ratusan juta warga memiliki akses perbankan, rekeningnya aktif, aman, dan benar-benar berguna, Rp50 ribu bisa menjadi pemantik yang cukup berarti.

Tetapi kalau rekening hanya dibuka, saldo masuk, kemudian masyarakat bingung harus diapakan, maka program itu berisiko menjadi pertunjukan administratif: rekening bertambah, tetapi manfaatnya tidak terasa.

Jadi, mungkin benar kata netizen: Rp50 ribu memang belum cukup untuk membeli banyak hal.

Tapi pemerintah juga jangan menjual program ini seolah-olah ukuran keberhasilannya adalah besar kecilnya uang yang bisa ditarik.

Sebab yang sedang dipertaruhkan bukan Rp50 ribu.

Yang dipertaruhkan adalah Rp11 triliun uang rakyat dan kepercayaan 200 juta warga.

Kalau uang itu benar-benar menjadi pintu menuju inklusi keuangan, silakan jalan.

Namun kalau akhirnya hanya menjadi saldo yang cepat habis dan bahan candaan baru di media sosial, jangan salahkan netizen kalau kemudian bertanya:

“Rekeningnya sudah punya. Manfaat besarnya kapan?”[dit]

Exit mobile version