Tim SAR mengatakan kondisi bangkai kapal yang belum stabil membuat beberapa bagian kapal sulit dan berisiko dijangkau para penyelam.
Sudayana berujar penyelam perlu mempertimbangkan kemungkinan perubahan posisi kapal saat mereka berada di dalam badan kapal.
“Yang paling sulit dan berbahaya dijangkau adalah kompartemen yang bagian bawah. Begitu kita masuk ke bagian bawah kapal, kita tidak tahu kestabilan kapal saat itu,” kata Sudayana Senin malam.
Dia berkata hal tersebut membuat operasi penyelaman memiliki risiko terhadap keselamatan personel. Perubahan posisi kapal ketika penyelam berada di bagian bawah bisa membahayakan mereka.
Kendala turut muncul ketika penyelam harus membuka akses melalui kaca. Kaca tidak boleh sembarangan dipecahkan karena tekanan yang muncul saat kaca pecah bisa membahayakan penyelam.
Belasan korban tewas teridentifikasi
Sebanyak 14 korban meninggal dunia dalam kecelakaan KM Virgo Transport 8 telah berhasil diidentifikasi.
Sementara empat jenazah lagi masih dalam proses identifikasi tim Disaster Victim Identification (DVI) melalui pemeriksaan DNA Polda Kalsel (Kalimantan Selatan).
Identifikasi terhadap para korban dilakukan melalui pemeriksaan medis forensik, sidik jari, odontologi forensik, Inafis, serta pencocokan barang atau properti yang ditemukan bersama jenazah.
DVI mencatat proses identifikasi terhadap sejumlah korban dilakukan melalui metode yang berbeda, menyesuaikan kondisi jenazah dan data pembanding yang tersedia.
BACA JUGA
Basarnas Akan Membalik KM Virgo yang Terapung untuk Evakuasi 129 Korban Hilang
Sementara empat jenazah lainnya belum dapat dipastikan identitasnya. Tim DVI masih menunggu hasil pemeriksaan DNA untuk memastikan identitas keempat korban tersebut.
Kabid Dokkes Polda Kalsel, Kombes Pol. dr. Much Sofwan mengatakan. proses identifikasi menjadi lebih sulit ketika jenazah ditemukan setelah beberapa hari berada di dalam air.
Ia menjelaskan tim DVI terlebih dahulu melakukan pemeriksaan kedokteran forensik, odontologi forensik, Inafis, serta mencocokkan data ante mortem dan post mortem.
“Kalau sudah di atas 10 hari dari kejadian musibah, kendalanya akan lebih sulit lagi. Sehingga kita butuh sekali kecocokan antara informasi ante mortem dan post mortem,” kata Sofwan, Senin (21/9/2026).
Berikut identitas 14 korban teridentifikasi berdasarkan laporan DVI.
1. Reyner Fausta Yosilianto, laki-laki, 22 tahun, asal Malang, Jawa Timur.
2. Nurul Rian Hidayat, laki-laki, 33 tahun, asal Pamekasan, Jawa Timur.
3. Denny Ridzal Saputra, laki-laki, 29 tahun, asal Kediri, Jawa Timur.
4. Imam Soeparno, laki-laki, 66 tahun, asal Surabaya, Jawa Timur.
5. Erik Maosul Latip, laki-laki, 37 tahun, asal Garut, Jawa Barat.
6. Risyan Kurnia Putra, laki-laki, 28 tahun, asal Garut, Jawa Barat.
7. Muhammad Abdianoor, laki-laki, 30 tahun, asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
8. Yuli, perempuan, 29 tahun, asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
9. Surya, laki-laki, 59 tahun, asal Margasari, Kalimantan Selatan.
10. Anas, laki-laki, 45 tahun, asal Bangkalan, Jawa Timur.
11. Bagus Mahendra, laki-laki, 20 tahun, asal Klaten, Jawa Tengah.
12. Aldo Nurahmansyah, laki-laki, 19 tahun, asal Surakarta, Jawa Tengah.
13. Jumbrik, laki-laki, 52 tahun, asal Lamongan, Jawa Timur.
14. I Putu Angga Santyana, laki-laki, 28 tahun, asal Cakranegara, Mataram. (*)
