Karena terlalu sering memberikan kesempatan.
Karena terlalu banyak diam ketika sebenarnya hati sudah meminta untuk didengar.
Aku bisa marah bukan karena aku tidak peduli.
Justru terkadang karena aku terlalu peduli.
Namun ketika kesabaran seseorang terus diuji, bahkan air yang tenang pun bisa berubah menjadi gelombang.
Karena itu, jangan buru-buru menilai diriku ketika aku marah.
Cobalah melihat apa yang terjadi sebelum kemarahan itu muncul.
Mungkin kau akan menemukan kecewa yang terlalu lama kusimpan.
Mungkin kau akan menemukan kata-kata yang berkali-kali kutahan.
Mungkin kau akan menemukan diriku yang sebenarnya hanya ingin dihargai dan dipahami.
Aku tidak meminta semua orang mengerti diriku.
Aku juga tidak berharap semua orang mampu membaca isi kepalaku.
Aku hanya percaya, orang yang benar-benar ingin mengenalku tidak akan berhenti pada apa yang terlihat.
Ia akan melihat lebih jauh.
Ia akan memahami bahwa seseorang tidak hanya terbentuk dari senyum, tetapi juga dari luka.
Bukan hanya dari keberhasilan, tetapi juga dari kegagalan.
Bukan hanya dari kelembutan, tetapi juga dari kemarahan.
Dan bukan hanya dari bagaimana seseorang bersikap ketika hidup sedang berada di atas, tetapi juga bagaimana ia tetap berdiri ketika kehidupan membawanya ke titik paling bawah.
Jadi, jika kau ingin mengenalku, jangan hanya lihat ketika aku tersenyum.
Lihat ketika aku berjuang.
Temani ketika aku menghadapi masalah.
Perhatikan ketika keadaan sedang berada di bawah.
Dan pahami ketika aku marah.
Mungkin saat itulah kau mulai mengerti bahwa diriku tidak sesederhana apa yang selama ini kau lihat.
Sebab aku bukan sekadar apa yang tampak di hadapanmu.
Aku adalah kumpulan perjalanan, luka, perjuangan, kesabaran, kemarahan, dan harapan yang membentukku sampai hari ini.
Dan mungkin kau tidak akan pernah mampu membaca seluruh diriku.
Tidak apa-apa.
Sebab sebagian diriku memang tidak untuk dibaca.
Sebagian hanya bisa dipahami oleh mereka yang bersedia tinggal ketika keadaan tidak lagi mudah.
“Kau tak bisa membaca diriku meskipun kau selalu di sampingku. Namun kau akan menemui diriku di saat kita berjuang, menghadapi masalah, di saat keadaan di bawah, dan saat aku marah.”
Dan tentu, kau tidak akan selalu menemukan marahku ketika diriku sedang kritis, berbicara pedas apa adanya.
Itu memang sifat alamiku sejak lama. Sebab, aku tidak terbiasa menyimpan sesuatu dalam hati, apalagi menyampaikan kritik di belakang orang lain.
Dan mungkin… Kau bisa membaca amarahku ketika diamku berlangsung terlalu lama.
Mungkin saja.
Namun, jangan buru-buru mengartikannya sebagai kemarahan.
Bisa jadi, saat itu aku hanya sedang lelah—lelah menjelaskan, lelah menghadapi keadaan, atau sekadar butuh waktu untuk kembali memahami diriku sendiri atau sekedar beristirahat.[dit]











