Jokowi Sebut Ada Operasi Intelijen untuk Diskreditkan Gibran, Islah Bahrawi Singgung Kebiasaan Menuding Orang Lain

Presiden RI ke-7 Joko Widodo saat pidato di peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Haul ke- KH Musyafa Ali di Pondok Pesantren Al-Falah, Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu (29/8/2026).. Foto: Facebook

FAKTANASIONAL.NET – Polemik ijazah mantan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali menjadi sorotan.

Pernyataan Jokowi mengenai dugaan operasi politik untuk menurunkan reputasi dirinya dan Gibran mendapat tanggapan kritis dari intelektual Nahdlatul Ulama (NU), Islah Bahrawi.

Pada Minggu, 18 Oktober 2026, pernyataan Jokowi tersebut menjadi perhatian di tengah berlanjutnya perdebatan mengenai ijazah dirinya dan putra sulungnya yang kini menjabat sebagai Wakil Presiden RI.

Jokowi menilai polemik tersebut tidak terlepas dari dugaan operasi politik yang melibatkan pihak-pihak tertentu. Ia juga menyebut adanya pihak yang memanfaatkan persoalan tersebut sehingga berkembang menjadi perbincangan luas.

“Iya kan sudah saya sampaikan sejak awal, ini ada operasi politik, kemudian ada penumpang gelap yang menunggangi lagi. Jadi menjadi ramai sekali,” kata Jokowi.

Meski demikian, Jokowi mengaku tidak terlalu mempermasalahkan situasi tersebut. Ia juga tidak menutup kemungkinan bahwa isu ijazah yang menyeret dirinya dan Gibran dapat mengalihkan perhatian publik dari persoalan lain.

“Bisa saja seperti itu, bisa saja, memang sekalian lagi operasi politik untuk men-downgrade reputasi politik seseorang,” ujarnya.

Jokowi kemudian menegaskan bahwa dugaan penurunan reputasi politik itu bisa menyasar dirinya maupun Gibran.

“Ya dua-duanya bisa (Jokowi dan Gibran),” pungkasnya.

Pernyataan Jokowi tersebut mendapat sorotan dari Islah Bahrawi. Intelektual NU itu menyampaikan kritik terhadap cara pandang yang mengaitkan polemik ijazah dengan dugaan operasi politik dan upaya mendiskreditkan pihak tertentu.

Exit mobile version