FAKTANASIONAL.NET – Reshuffle besar-besaran terhadap pejabat yang gagal menjalankan tanggung jawabnya dapat menjadi langkah awal Presiden Prabowo Subianto memulihkan elektabilitas dan kepercayaan masyarakat.
Evaluasi perlu menjangkau persoalan daya beli, lapangan kerja, pasokan BBM, kebakaran hutan dan lahan, pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, serta korupsi dan penegakan hukum.
Pergantian wajib didasarkan pada bukti kegagalan dan diikuti koreksi kebijakan agar menghasilkan perubahan yang dirasakan rakyat.
Survei SMRC pada 1–10 Oktober 2026 mencatat elektabilitas Prabowo tinggal 9,8 persen dalam simulasi semi terbuka, turun dari 34,9 persen pada November 2025.
Kemerosotan sebesar 25,1 poin persentase merupakan peringatan keras untuk mengevaluasi pemerintahan secara menyeluruh.
Membiarkan kegagalan berulang tanpa konsekuensi jabatan berisiko membuat Presiden dianggap menerima dan mempertahankan kegagalan tersebut.
Reshuffle dapat menjadi titik balik apabila memperlihatkan bahwa Presiden mendahulukan kepentingan rakyat daripada kenyamanan bawahannya.
Pejabat yang mengabaikan keluhan, gagal memperbaiki layanan, atau membiarkan masalah berulang tidak layak terus dipertahankan.
Stabilitas pemerintahan akan semakin rapuh apabila keselamatan jabatan lebih diperhatikan daripada kesulitan masyarakat.
Tekanan biaya hidup dan sulitnya memperoleh pekerjaan perlu menjadi prioritas evaluasi. Pemerintah dinilai dari kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan pokok, memperoleh penghasilan, dan menjaga keberlangsungan usaha.
Klaim keberhasilan ekonomi akan kehilangan daya meyakinkan apabila tidak sejalan dengan pengalaman rumah tangga.
Ungkapan “in this economy” dapat dibaca sebagai sindiran sekaligus cara menghadapi kecemasan akibat mahalnya biaya hidup dan ketidakpastian penghasilan.
Percakapan media sosial memang tidak mewakili seluruh penduduk, tetapi pemerintah perlu memahami keresahan di balik kelucuan tersebut.
Ketika menjalani kehidupan yang wajar terasa semakin sulit, masyarakat membutuhkan penyelesaian yang nyata.
Masalah BBM juga wajib masuk dalam evaluasi. Kelangkaan dan antrean menghambat pekerjaan, mengganggu usaha, serta menambah beban pengeluaran masyarakat.
Pemerintah perlu memeriksa letak kegagalan dalam perencanaan kebutuhan, pengadaan, pengawasan, dan distribusi.
Pejabat yang terbukti lalai serta gagal melakukan koreksi perlu diganti. Rakyat tidak boleh terus membayar kegagalan pasokan energi dengan waktu dan penghasilan yang hilang.
Penanganan kebakaran hutan dan lahan memerlukan ketegasan yang sama. Evaluasi perlu mencakup pencegahan, pengawasan kawasan dan pemegang izin, kecepatan pemadaman, penindakan terhadap pelaku, serta perlindungan kesehatan warga.
Pengerahan petugas setelah api membesar tidak cukup untuk menutup kelemahan pencegahan.
Masyarakat tidak boleh terus menghirup asap sementara pertanggungjawaban berhenti pada alasan cuaca.
Pelaksanaan MBG juga memerlukan evaluasi tegas. Sebanyak 61,4 persen responden SMRC menyatakan kurang atau tidak puas terhadap pelaksanaannya.
Temuan tersebut menuntut pemeriksaan atas pengelolaan, keselamatan penerima, pengawasan, dan penanganan keluhan.
