Buya Hamka: Cinta dan Patah Hati

Buya Hamka: Cinta dan Patah Hati/(Ditfkn)

FAKTANASIONAL.NET – Cinta adalah wacana universal yang tak pernah habis dibedah oleh zaman.

Namun, ketika diskursus tentang cinta lahir dari pena seorang ulama besar sekaligus sastrawan kharismatik seperti Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang lebih dikenal dengan Buya Hamka, maknanya melampaui sekadar roman picisan.

Melalui mahakaryanya, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Hamka menyajikan sebuah epik puitis yang membedah anatomi cinta dari kacamata kemanusiaan, budaya, hingga spiritualitas ketuhanan.

Novel yang pada awalnya merupakan cerita bersambung di majalah Pedoman Masyarakat (1938) sebelum dibukukan pada tahun 1939 ini, telah melintasi ruang dan waktu.

Karyanya tidak hanya diadaptasi ke layar lebar, tetapi juga terus relevan menjadi rujukan dalam memahami kompleksitas hubungan manusia.

Tulisan ini akan mengupas tuntas wawasan-wawasan cinta yang tersembunyi di balik tragedi Zainuddin dan Hayati, menyelisik bagaimana Hamka menempatkan cinta sebagai kekuatan yang membangkitkan, sekaligus kelemahan yang mampu meruntuhkan jiwa.

Menilik Orisinalitas dan Latar Belakang Epik Sang Pujangga

Kapasitas keilmuan Buya Hamka tidak perlu diperdebatkan. Beliau adalah tokoh teladan yang jejak perjalanannya dipenuhi hikmah. Namun, layaknya sebuah karya besar, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck tidak lepas dari badai kontroversi.

Pada masanya, kelompok Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat)—sebuah organisasi kebudayaan sayap kiri—pernah melontarkan tuduhan bahwa mahakarya ini adalah bentuk plagiasi dari karya pujangga Prancis, Alphonse Karr, yang berjudul Sous les Tilleuls.

Novel Karr tersebut memang pernah diadaptasi ke dalam bahasa Arab oleh Mustafa Lutfi al-Manfaluti dengan judul Majdulin, yang kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul Magdalena.

Tuduhan ini memicu pro dan kontra yang masif. Namun, jika dibedah dari kacamata literatur yang lebih luas, kemiripan alur cerita adalah hal yang lumrah dalam epik tragedi romansa dunia. Kisah cinta yang terbentur tembok tradisi, perjodohan paksa, pengorbanan, hingga kematian bersama, adalah arketipe yang bisa ditemukan dalam Romeo and Juliet karya Shakespeare (terbentur tradisi feodal), Sayap-Sayap Patah karya Kahlil Gibran (terbentur penindasan agamawan dan hierarki sosial), hingga kisah Layla Majnun atau Khosrow dan Shirin.

Orisinalitas Buya Hamka justru bersinar terang pada setting sosiokultural yang ia bangun, penokohan yang mendalam, kritik tajam terhadap kekakuan adat Minangkabau pada masa itu, dan yang paling utama: penyisipan nilai-nilai tauhid dan syariat Islam dalam merespons gejolak asmara. Inilah yang membuat karya ini memiliki “roh” dan orisinalitas yang tak terbantahkan.

Sinopsis Singkat: Tragedi Cinta Dua Kutub

Sebelum menyelam ke dalam filosofi cinta Hamka, penting untuk memetakan kembali alur kisah ini. Novel ini berpusat pada dua tokoh utama: Zainuddin dan Hayati.

Zainuddin adalah pemuda dengan garis hidup yang pahit. Tumbuh sebagai yatim piatu, ia mewarisi darah campuran. Ayahnya, seorang Minang yang terusir dari tanah kelahirannya karena konflik keluarga, menikah dengan seorang perempuan Bugis di Makassar.

Ketika Zainuddin dewasa dan memutuskan kembali ke tanah leluhur ayahnya di Padang (Batipuh), ia mendapati kenyataan pahit: dalam tradisi matrilineal Minangkabau yang ketat, ia dianggap sebagai “orang luar” (tidak bersuku).

Di tengah keterasingannya, Zainuddin jatuh cinta pada Hayati, kembang desa yang murni dan lembut.

Cinta mereka tumbuh berbalas melalui medium surat-menyurat yang sangat puitis dan emosional. Namun, cinta ini dianggap tidak sekufu (tidak sederajat). Demi menjaga nama baik, Zainuddin rela menyingkir ke Padang Panjang.

Tragedi bermula ketika lamaran Zainuddin ditolak mentah-mentah oleh keluarga Hayati. Mereka lebih memilih Azis, seorang pemuda dari keluarga saudagar kaya yang dianggap memiliki status sosial yang setara.

Penolakan ini menghancurkan Zainuddin. Ia jatuh sakit, hancur lebur, hingga akhirnya bangkit berkat dorongan sahabatnya, Muluk (seorang mantan preman yang setia).

Zainuddin dan Muluk merantau ke Jawa (Jakarta, lalu Surabaya). Di sana, Zainuddin meraih kesuksesan gemilang sebagai penulis terkenal dengan nama pena “Z” dan menjadi pemilik perkumpulan sandiwara (tonil) dengan julukan Tuan Sabir.

Ironisnya, roda nasib berputar. Azis yang gila harta dan gemar berjudi akhirnya bangkrut, terlilit utang, dan jatuh sakit. Azis dan Hayati terpaksa menumpang di rumah Zainuddin di Surabaya.

Zainuddin, yang masih menyimpan luka batin yang dalam, bersikap dingin. Azis yang tak sanggup menanggung malu akhirnya bunuh diri di Banyuwangi, meninggalkan sepucuk surat yang menitipkan Hayati kembali kepada Zainuddin.

Alih-alih menerima Hayati, Zainuddin melampiaskan dendam cintanya. Ia menolak Hayati dan memintanya pulang ke Padang menumpang kapal Van Der Wijck.

Kapal tersebut tenggelam di perairan Lamongan (peristiwa sejarah nyata pada 20 Oktober 1936). Hayati selamat dari tenggelamnya kapal namun mengalami luka parah.

Di saat-saat terakhirnya di rumah sakit, ia mendengar pengakuan cinta Zainuddin yang sesungguhnya belum pudar. Hayati meninggal, meninggalkan Zainuddin dalam penyesalan seumur hidup yang tak lama kemudian membawanya menyusul Hayati ke alam baka.

Dari narasi epik ini, kita dapat membedah berbagai dimensi cinta yang direfleksikan oleh Buya Hamka.

1. Rasa Kasihan: Pintu Masuk dan Keluarnya Cinta

Salah satu pandangan psikologis yang paling tajam dari Buya Hamka dalam novel ini adalah tentang relasi antara rasa “kasihan” dan “cinta”.

Menurut Hamka, pintu masuk cinta yang paling aman dan kekal sering kali bermula dari rasa kasihan atau empati.

Dalam novel disebutkan:

“Cinta adalah melalui beberapa pintu. Ada dari pintu sayang, ada dari pintu kekasih, ada dari pintu rindu, tetapi yang paling aman dan kekal ialah cinta yang melalui pintu kasihan.”

Pada awalnya, ketertarikan Hayati kepada Zainuddin bukan semata-mata karena ketampanan atau pesona, melainkan karena rasa iba.

Ia melihat seorang pemuda yang pendiam, tersia-sia, dan terbuang oleh adat di kampung halamannya sendiri. Rasa kasihan adalah bentuk tertinggi dari empati—kemampuan untuk meletakkan rasa pada penderitaan orang lain. Dari empati inilah, ego melebur dan perlahan bermetamorfosis menjadi cinta yang tulus.

Namun, Hamka juga memberikan peringatan keras. Jika rasa kasihan adalah jalan masuk, ia juga bisa menjadi jalan keluar (hilangnya) cinta.

Hal ini terjadi ketika Hayati mulai bimbang antara memilih Zainuddin atau Azis. Melihat gaya hidup Azis yang modern dan “berkelas”, Hayati mulai merasa Zainuddin terlalu kuno atau out of date.

Hayati ragu, namun ia bertahan sesaat karena “kasihan” bila meninggalkan Zainuddin yang sudah sangat mencintainya. Hamka menuliskan:

“Dari lurah belas kasihan mendaki ke puncak bukit cinta, sekarang telah menurun kembali kepada lurah kasihan. Dan cinta bilamana telah menurun kepada belas kasihan, tandanya lama-kelamaan dia akan berangsur turun.”

Pelajaran Relevan: Hubungan yang awalnya didasari cinta, namun seiring waktu hanya disangga oleh rasa kasihan (“Aku kasihan kalau harus memutuskan dia sekarang”), adalah hubungan yang sedang sekarat. Cinta sejati tidak berubah oleh kondisi, tetapi rasa kasihan sangat bergantung pada situasi yang fana.

2. Melibatkan Tuhan dalam Pusaran Asmara

Keistimewaan karya Buya Hamka dibandingkan sastrawan romantis lainnya adalah kedalaman spiritualnya. Hamka menyajikan cinta antara laki-laki dan perempuan sebagai fitrah (anugerah alami), namun ia memberikan panduan tegas bagaimana mengelola cinta agar tidak menabrak norma agama.

Hayati merangkum ini dalam doa keluh kesahnya yang sangat menyayat hati:

“Ya Ilahi, berikanlah perlindungan kepada hamba-Mu… Hamba sayang akan dia, hamba cinta dia. Jika cinta itu suatu dosa, ampunilah dan maafkanlah hamba. Hamba akan turut perintah-Mu, hamba tak akan melanggar larangan, tak akan menghentikan suruhan…”

Di sisi lain, Zainuddin memandang cinta sebagai titipan Tuhan yang harus dijaga kesuciannya.

“Jangan takut menghadapi cinta… Jika hatimu diberinya nikmat pula dengan cinta sebagaimana hatiku, marilah kita pelihara nikmat itu sebaik-baiknya… Cinta adalah iradat Tuhan, dikirimnya ke dunia supaya tumbuh. Kalau dia terletak di atas tanah yang lekang dan tandus, tumbuhnya akan menyiksa orang lain… tetapi jika dia hinggap kepada hati yang suci, dia akan mewariskan kemuliaan, keikhlasan, dan taat kepada Ilahi.”

Pelajaran Relevan: Cinta adalah kendaraan menuju Tuhan. Mendapatkan anugerah cinta tidak lantas membenarkan tindakan yang menerabas syariat atau norma moral.

Jika cinta dihidupkan melalui jalan yang salah dan merusak, Tuhan bisa saja mencabut kenikmatan dari cinta tersebut, menyisakan hampa dan penderitaan.

3. Cinta: Kekuatan yang Membangkitkan Sekaligus Kelemahan Fatal

Dalam teori psikologi modern maupun filsafat Timur (Yin dan Yang), cinta selalu memiliki paradoks. Ia adalah energi pendorong terkuat, namun juga titik lemah yang paling mematikan. Hamka memotret paradoks ini dengan brilian.