DI tengah kehidupan modern yang serba cepat, manusia sering mengukur keberhasilan dari hasil akhir. Nilai akademik dijadikan ukuran kecerdasan, jabatan dianggap simbol keberhasilan, sementara kekayaan dipandang sebagai puncak pencapaian hidup. Pola pikir semacam ini tanpa disadari membuat banyak orang mudah kecewa ketika usaha yang dilakukan tidak langsung membuahkan hasil.
Berabad-abad lalu, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari telah menawarkan cara pandang yang berbeda. Ulama besar asal Kalimantan Selatan itu mengajarkan bahwa manusia sesungguhnya tidak dibebani untuk memastikan hasil, melainkan diperintahkan untuk terus berusaha. Dalam urusan ilmu misalnya, kewajiban manusia bukanlah menjadi orang yang paling pintar, tetapi terus mencari ilmu sepanjang hayat.
Prinsip sederhana tersebut menjadi salah satu warisan pemikiran yang tetap relevan hingga hari ini.
Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari lahir sekitar tahun 1710 di Lok Gabang, Martapura, Kesultanan Banjar. Beliau berasal dari keluarga sederhana dengan ayah bernama Abdullah dan ibu bernama Siti Aminah. Sejak kecil, bakat kecerdasannya sudah terlihat. Tidak hanya cepat memahami pelajaran, Muhammad Arsyad kecil juga dikenal memiliki kemampuan melukis dan menulis kaligrafi yang sangat baik.
Kemampuan itulah yang kemudian menarik perhatian Sultan Tahmidullah. Sang Sultan membawanya ke lingkungan istana agar memperoleh pendidikan yang lebih baik sekaligus menjadi teladan bagi anak-anak kerajaan. Keputusan tersebut menjadi titik awal perjalanan panjang seorang anak Banjar yang kelak dikenal sebagai salah satu ulama terbesar di Nusantara.
Namun, keistimewaan Muhammad Arsyad bukan semata-mata karena kecerdasannya. Yang lebih menonjol adalah semangatnya dalam mencari ilmu.
Ketika usianya memasuki sekitar tiga puluh tahun dan istrinya sedang mengandung, beliau memutuskan berangkat ke Makkah. Keputusan itu tentu bukan pilihan mudah. Pada masa tersebut, perjalanan dari Nusantara menuju Tanah Suci membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun dengan risiko yang sangat besar.
Meski demikian, kecintaan terhadap ilmu mengalahkan segala kekhawatiran.
Di Makkah beliau menimba ilmu selama lebih dari tiga dekade. Dalam periode itu, Muhammad Arsyad termasuk dalam kelompok ulama Jawi yang sangat dihormati bersama Syekh Abdus Samad Al-Palimbani, Syekh Abdul Wahab Bugis, dan Syekh Abdurrahman Al-Misri. Mereka menjadi representasi kecemerlangan intelektual Nusantara di pusat dunia Islam saat itu.
Menariknya, semangat belajar Muhammad Arsyad tidak berhenti di sana. Setelah menyelesaikan masa belajarnya di Makkah, beliau bahkan berkeinginan melanjutkan studi ke Mesir. Akan tetapi, keinginan tersebut dicegah oleh gurunya. Alasannya sederhana namun sangat mendalam: masyarakat Nusantara lebih membutuhkan kehadiran beliau daripada tambahan gelar keilmuan.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa ilmu tidak hanya untuk memenuhi rasa ingin tahu pribadi, tetapi juga harus membawa manfaat bagi masyarakat.
Dari perjalanan hidup itulah lahir satu prinsip penting yang sering dikaitkan dengan pemikiran Syekh Muhammad Arsyad, yakni manusia hanya diwajibkan mencari ilmu. Soal berhasil atau tidak, paham atau belum, cepat menguasai atau masih tertinggal, semuanya berada dalam kehendak Allah.
Pandangan ini memberikan ketenangan psikologis yang luar biasa.
Tidak sedikit orang yang berhenti belajar hanya karena merasa lambat memahami materi. Ada pula yang kehilangan semangat karena merasa kalah dibanding teman-temannya. Dalam perspektif Syekh Muhammad Arsyad, cara berpikir seperti itu justru keliru. Selama seseorang terus belajar dengan sungguh-sungguh, ia telah menjalankan kewajiban yang dibebankan Allah kepadanya.
Hasil akhir bukan wilayah manusia.
Prinsip tersebut sesungguhnya tidak hanya berlaku dalam menuntut ilmu, tetapi juga dalam seluruh aspek kehidupan.
Bekerja misalnya. Tugas manusia adalah berusaha mencari rezeki dengan cara yang halal. Adapun apakah usaha tersebut menghasilkan keuntungan besar atau kecil, cepat atau lambat, semuanya merupakan ketentuan Allah. Begitu pula dalam berdakwah, mendidik anak, membangun usaha, maupun mengabdi kepada masyarakat.
Cara pandang semacam ini melahirkan pribadi yang tidak mudah putus asa sekaligus tidak mudah sombong.
Ketika gagal, seseorang tidak tenggelam dalam keputusasaan karena ia memahami bahwa dirinya hanya bertugas berusaha. Sebaliknya, ketika berhasil, ia tidak merasa paling hebat karena menyadari bahwa keberhasilan tersebut merupakan karunia Allah.
Inilah salah satu fondasi spiritual yang banyak ditemukan dalam tradisi tasawuf yang juga menjadi perhatian Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.
Menurut beliau, ketergantungan manusia tidak boleh diarahkan kepada makhluk, melainkan hanya kepada Allah. Makhluk hanyalah sebab, sedangkan hasil tetap berada di tangan Sang Pencipta.
Pemahaman tersebut memiliki dampak yang sangat besar terhadap karakter seseorang.
Orang yang menggantungkan hidup kepada manusia akan mudah kecewa ketika harapannya tidak terpenuhi. Sebaliknya, orang yang menggantungkan seluruh harapannya kepada Allah akan lebih mampu menerima setiap ketentuan hidup dengan lapang dada.
Bukan berarti berhenti berusaha, melainkan memahami bahwa usaha dan hasil merupakan dua hal yang berbeda.
Pemikiran seperti ini juga tercermin dalam perjalanan hidup Muhammad Arsyad setelah kembali ke Tanah Air.
Beliau tidak hanya mengajar atau memberikan ceramah. Tanah yang diberikan oleh Kesultanan Banjar justru dijadikan pusat pemberdayaan masyarakat. Lahan-lahan yang sebelumnya tidak produktif dihidupkan kembali melalui sistem pertanian dan irigasi.
Konsep yang dikenal dalam fikih sebagai ihya al-mawat atau menghidupkan tanah mati benar-benar diwujudkan dalam praktik.
Masyarakat diajak membangun ekonomi bersama. Pertanian berkembang, saluran air dibangun, hingga kawasan tersebut tumbuh menjadi daerah yang makmur. Dakwah tidak hanya dilakukan melalui mimbar, tetapi juga melalui pembangunan kesejahteraan masyarakat.
Pelajaran penting dari sini adalah bahwa ilmu tidak boleh berhenti sebagai pengetahuan. Ilmu harus melahirkan manfaat nyata.
Barangkali inilah yang membedakan ulama besar dengan sekadar orang yang banyak membaca buku.
Ilmu bagi Syekh Muhammad Arsyad bukan sekadar hafalan ataupun perdebatan. Ilmu harus mampu memperbaiki kehidupan manusia.
Karena itulah beliau juga dikenal sebagai penulis kitab fikih monumental Sabilal Muhtadin, yang hingga kini masih menjadi rujukan di berbagai pesantren dan lembaga pendidikan Islam. Kitab tersebut tidak hanya membahas hukum-hukum ibadah secara teoritis, tetapi juga memperhatikan kondisi masyarakat pada zamannya.
Sejumlah fatwanya bahkan menunjukkan sikap yang sangat kontekstual. Misalnya mengenai arah buang air di kamar kecil atau pentingnya menjaga ketenangan ketika ada orang lain sedang beribadah, belajar, maupun beristirahat. Semua itu memperlihatkan bahwa hukum Islam harus dipahami dengan mempertimbangkan kemaslahatan.
Meski dikenal sebagai ahli fikih, Syekh Muhammad Arsyad tidak pernah memisahkan ilmu lahir dengan pembinaan batin. Bagi beliau, kecerdasan intelektual tanpa kebersihan hati hanya akan melahirkan kesombongan. Sebaliknya, semangat beribadah tanpa ilmu juga berpotensi menjerumuskan seseorang ke dalam kekeliruan.
Oleh sebab itu, perjalanan mencari ilmu tidak pernah berhenti pada penguasaan teori. Ilmu harus membentuk akhlak, melahirkan kerendahan hati, serta menumbuhkan kesadaran bahwa seluruh kemampuan manusia hanyalah titipan Allah.
Di era ketika orang berlomba-lomba mengejar pengakuan, popularitas, dan pencapaian instan, pesan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari terasa semakin relevan.
Jangan terlalu sibuk menghitung hasil sebelum selesai menjalankan ikhtiar.
Belajarlah tanpa takut dianggap lambat. Bekerjalah tanpa terlalu cemas terhadap hasil. Teruslah memperbaiki diri tanpa harus menunggu pujian dari orang lain.
Sebab, dalam pandangan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, manusia tidak diminta menjadi yang paling berhasil. Manusia hanya diminta untuk terus mencari ilmu, berusaha dengan sungguh-sungguh, lalu menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT.
Jalan Membersihkan Hati Menuju Kedekatan dengan Allah
Apabila banyak ulama dikenang karena karya fikihnya, maka Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari juga meninggalkan warisan besar dalam bidang tasawuf. Meski dikenal sebagai ahli hukum Islam melalui kitab Sabilal Muhtadin, beliau memandang bahwa syariat dan tasawuf bukanlah dua jalan yang saling bertentangan. Keduanya justru harus berjalan beriringan agar seorang muslim mampu menjalani kehidupan secara utuh.
Dalam karya-karya tasawufnya seperti Fath ar-Rahman dan Kanz al-Ma’rifah, Syekh Muhammad Arsyad menjelaskan bahwa perjalanan menuju Allah dimulai dari pembenahan hati. Ilmu yang tinggi tidak akan bernilai apabila tidak disertai keikhlasan, sementara ibadah yang banyak dapat kehilangan makna apabila hanya menjadi rutinitas tanpa kesadaran spiritual.
Bagi beliau, inti dari seluruh perjalanan tersebut adalah memperkuat iman.
Selama ini banyak orang memahami iman hanya sebagai hafalan definisi. Padahal, Syekh Muhammad Arsyad menegaskan bahwa hakikat iman adalah tasdiq, yaitu pembenaran yang kokoh di dalam hati. Keyakinan inilah yang menjadi fondasi seluruh amal manusia.
Ucapan syahadat dan berbagai amal ibadah memang sangat penting, tetapi semuanya merupakan manifestasi dari keyakinan yang telah hidup dalam hati. Dengan kata lain, amal bukanlah pengganti iman, melainkan buah dari iman.
Pandangan tersebut mengajarkan bahwa seseorang tidak cukup hanya terlihat saleh di hadapan manusia. Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa hatinya benar-benar meyakini Allah sebagai tujuan hidup.
Dari keyakinan itulah lahir langkah berikutnya, yaitu taqarrub atau mendekat kepada Allah.
Syekh Muhammad Arsyad membagi proses ini ke dalam dua tingkatan. Tingkatan pertama disebut sebagai murid, yaitu seseorang yang dengan kesadaran penuh berusaha mendekat kepada Allah melalui ibadah, zikir, ilmu, dan amal saleh.
Namun, menurut beliau, perjalanan tidak berhenti sampai di sana.
Tujuan seorang murid adalah mencapai derajat murad. Pada tingkatan ini, bukan hanya manusia yang ingin dekat kepada Allah, tetapi Allah sendiri yang menghendaki kedekatan dengan hamba-Nya.
Konsep tersebut mengandung pesan yang sangat dalam. Semua ikhtiar yang dilakukan manusia pada akhirnya diharapkan melahirkan kasih sayang Allah. Seorang hamba tidak boleh merasa puas hanya karena rajin beribadah. Ia justru harus terus memperbaiki diri agar layak memperoleh cinta dan ridha-Nya.
Dalam perspektif tasawuf, kedekatan dengan Allah bukanlah sesuatu yang dapat diklaim oleh manusia. Ia merupakan anugerah yang diberikan kepada hamba yang terus berusaha membersihkan dirinya.
Karena itu, perjalanan spiritual tidak boleh dilakukan secara tergesa-gesa.
Syekh Muhammad Arsyad menjelaskan bahwa seorang pencari jalan Allah harus melalui beberapa tahapan. Tahapan pertama adalah tingkat mubtadi, yaitu fase permulaan. Pada fase ini, tugas utama seseorang adalah membersihkan penyakit hati.
Kesombongan, riya, ujub, tamak, dengki, amarah yang berlebihan, hingga kecintaan yang berlebihan terhadap dunia harus mulai dikendalikan. Selama penyakit-penyakit tersebut masih menguasai hati, seseorang belum siap melangkah ke tahap berikutnya.
Dalam kehidupan sekarang, penyakit hati itu justru semakin mudah tumbuh.
Media sosial misalnya, sering kali menjadi ruang untuk mencari pengakuan. Tidak sedikit orang membagikan setiap aktivitas bukan karena ingin berbagi manfaat, melainkan agar memperoleh pujian. Bahkan, kebencian pun sering disebarkan secara terbuka demi mendapatkan perhatian.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perjuangan melawan riya pada era digital jauh lebih kompleks dibandingkan masa lalu.
Syekh Muhammad Arsyad mengingatkan bahwa tasawuf bukan sekadar memperbanyak zikir, melainkan terlebih dahulu membersihkan batin dari segala bentuk kecenderungan yang menjauhkan manusia dari Allah.
Setelah berhasil melewati tahap awal, seseorang memasuki tingkatan mutawassith.
Pada tahap ini, hati yang telah dibersihkan mulai diisi dengan sifat-sifat mulia. Kesabaran, rasa syukur, qanaah, kasih sayang, tawakal, cinta kepada Allah, serta berbagai akhlak terpuji menjadi bekal utama perjalanan spiritual.
Beliau menegaskan bahwa proses mengosongkan hati dari keburukan dan mengisinya dengan kebaikan tidak dapat dilakukan secara bersamaan.
Seseorang tidak bisa berharap memperoleh ketenangan apabila masih mempertahankan kesombongan. Begitu pula tidak mungkin merasakan manisnya tawakal apabila masih dikuasai ambisi dunia yang berlebihan.
Karena itu, tasawuf menuntut perubahan karakter, bukan hanya perubahan pengetahuan.
Setelah kedua tahapan tersebut dilalui, barulah seseorang memasuki tingkat muntaha atau puncak perjalanan spiritual.
Pada fase ini, seluruh orientasi hidup hanya tertuju kepada Allah. Dunia tidak lagi menjadi tujuan utama, melainkan sekadar sarana untuk beribadah. Harta, jabatan, popularitas, bahkan pujian manusia tidak lagi menguasai hati.
Bukan berarti seseorang meninggalkan kehidupan dunia. Ia tetap bekerja, berkeluarga, berdagang, bahkan memimpin masyarakat. Bedanya, semua aktivitas tersebut dilakukan semata-mata sebagai bentuk pengabdian kepada Allah.
Inilah hakikat kebebasan yang diajarkan tasawuf.
Seseorang tetap hidup di tengah dunia, tetapi hatinya tidak diperbudak oleh dunia.
Pemikiran Syekh Muhammad Arsyad juga memberikan peringatan keras terhadap kecenderungan sebagian orang yang ingin memperoleh pengalaman spiritual secara instan.
Menurut beliau, banyak orang tergoda mengejar kesaktian, karamah, atau pengalaman-pengalaman luar biasa tanpa terlebih dahulu membangun akhlak.










