Fakta Nasional

Api Karhutla Tembus Jantung Tanjung Puting

FAKTANASIONAL.NET - Satuan Tugas Pengendalian Karhutla melaporkan bahwa bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah Kalimantan Tengah sejak Minggu, 11 Oktober 2026, telah menembus batas administratif dan membakar sebagian area…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Sekar Ayuning Kasih Editor: Redaksi 📍 Nasional Monday, 12 October 2026 📖 2 menit
Api Karhutla Tembus Jantung Tanjung Puting
Api Karhutla Tembus Jantung Tanjung Puting/dok.mongabay
) -->

FAKTANASIONAL.NET - Satuan Tugas Pengendalian Karhutla melaporkan bahwa bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah Kalimantan Tengah sejak Minggu, 11 Oktober 2026, telah menembus batas administratif dan membakar sebagian area konservasi di dalam Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP). Peristiwa darurat ini memicu keprihatinan mendalam dari berbagai kalangan, mengingat kawasan tersebut merupakan suaka margasatwa global sekaligus habitat perlindungan utama bagi populasi orang utan liar (Pongo pygmaeus).

Faktor Cuaca dan Karakteristik Gambut Perparah Situasi

Penyebaran api yang begitu cepat tidak terlepas dari kombinasi cuaca panas ekstrem serta struktur tanah gambut yang kering kerontang. Material bawah tanah yang bersifat mudah terbakar membuat tim pemadam harus bekerja ekstra keras karena api sering kali menjalar secara tersembunyi di bawah permukaan tanah.

"Kendala utama di lapangan adalah ketersediaan pasokan air yang terbatas serta struktur gambut yang menyimpan bara api di dalam. Hal ini membuat titik api sangat dinamis dan mudah kembali membesar ketika tertiup angin," terang salah satu personel pengendali karhutla setempat.

Dampak dari perluasan api ini juga mulai dirasakan oleh para pelaku wisata alam. Asap tebal tampak menyelimuti sejumlah jalur perairan sungai yang biasa dilintasi wisatawan menuju pusat konservasi satwa.

Ancaman Nyata bagi Satwa Dilindungi

Masuknya api ke dalam kawasan inti suaka alam dikhawatirkan mengganggu keseimbangan ekosistem yang selama ini dijaga ketat. Beberapa risiko utama yang kini dihadapi meliputi:

  • Terganggunya Habitat Satwa: Asap pekat berpotensi memaksa berbagai jenis satwa liar, termasuk orang utan dan primata lainnya, berpindah menjauhi pusat kawasan.

  • Kerusakan Flora Khas Rawa: Vegetasi hutan hujan tropis dataran rendah dan pohon-pohon penyangga ekosistem gambut terancam mengalami kerusakan permanen.

  • Aktivitas Riset dan Ekowisata: Operasional sejumlah pos pengamatan dan jalur jelajah alam terpaksa disesuaikan dengan status siaga darurat guna memprioritaskan keselamatan.

Penguatan Operasi Penanggulangan Darurat

Berbagai instansi terkait—mulai dari balai pengelola taman nasional, aparat keamanan, tim penanggulangan bencana daerah, hingga relawan masyarakat—kini dikerahkan secara serentak di garis depan.

Upaya pemadaman darat terus digencarkan melalui pembangunan sekat api pembatas serta penyemprotan air secara intensif. Di samping itu, koordinasi lintas instansi terus dioptimalkan guna mendatangkan bantuan armada udara (water bombing) demi menjangkau titik-titik api yang sulit diakses melalui jalur darat.

Pemerintah daerah tak henti-hentinya mengingatkan warga agar menghentikan segala aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar demi mencegah perluasan bencana asap di wilayah tersebut. (sak)


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK