Fakta Nasional

Sudah Mengkhawatirkan, Pemda Demak Diminta Gencarkan Sosialisasi dan Edukasi Tentang Bahaya Miras 'Es Moni'

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Komisi IX DPR RI yang membidangi urusan kesehatan meminta Pemerintah, khususnya Pemerintah Daerah (Pemda) Demak, Jawa Tengah untuk menggencarkan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya Es Moni bagi keseh…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Zul Jamba Editor: Redaksi 📍 Nasional Saturday, 21 September 2024 📖 2 menit
Sudah Mengkhawatirkan, Pemda Demak Diminta Gencarkan Sosialisasi dan Edukasi Tentang Bahaya Miras 'Es Moni'
Petuga Satpol PP Pemda Demak, Jawa TImur mendapati Misa Es Moni di pasarkan di angkiringan/Foto: Kompas,com/Dok. Satpol PP Demak.
) -->

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Komisi IX DPR RI yang membidangi urusan kesehatan meminta Pemerintah, khususnya Pemerintah Daerah (Pemda) Demak, Jawa Tengah untuk menggencarkan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya Es Moni bagi kesehatan. Permintaan tersebut disampaikan Anggota Komsi IX DPR RI, Arzeti Bilbina.

Menurut Arzeti, sosialisasi dapat menggunakan berbagai sarana, termasuk platform media sosial yang banyak digunakan generasi muda.

"Kandungan alkohol dalam arak sudah pasti sangat berbahaya bagi kesehatan. Apalagi dicampur dengan bahan-bahan lain yang kita belum ketahui keamanannya. Belum lagi minuman beralkohol juga punya dampak-dampak sosial dan keamanan,” kata Legislator dari Dapil Jawa Timur ini, Jumat (20/09/2024).

Arzeti menambahkan, Pemerintah harus rinci dalam memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya mengonsumsi minuman alkohol oplosan. Selain mengganggu pencernaan, minuman keras dapat merusak organ tubuh.

“Informasi-informasi seperti inilah yang harus disosialisasikan kepada masyarakat agar paham dampak dari mengkonsumsi minuman keras oplosan,” ujar Arzeti.

Arzeti juga menyoroti mudahnya akses Es Moni didapatkan masyarakat dan khawatir pada dampak sosialnya, terutama bagi anak muda.

“Karena anak remaja cenderung penasaran dan sedang dalam masa mencari jati diri sehingga gampang terpengaruh tren. Maka penting sekali akses peredaran minuman alkohol oplosan ini dihentikan,” ujar Legislator dari Dapil Jawa Timur I itu.

“Apalagi rasanya dianggap enak dan variatif, saya khawatir sekali anak-anak kecil yang tidak tahu kandungan Es Moni ini ikut-ikutan membelinya. Pengawasan orangtua di sini menjadi kunci,” sambung Arzeti.

Selain peran orangtua, Arzeti menilai Pemerintah dapat menggandeng tokoh-tokoh masyarakat atau tokoh agama untuk memperkuat sosialisasi tentang bahaya dari Es Moni.

“Biasanya imbauan dari tokoh-tokoh lebih banyak didengarkan oleh masyarakat, apalagi tokoh-tokoh yang mereka sukai. Pemerintah bisa melibatkan tokoh-tokoh masyarakat ternama untuk memberantas tren Es Moni,” ucapnya.

Arzeti juga mendorong dibuatnya program-program penyuluhan untuk masyarakat mengenai bahaya minuman keras oplosan serta dampak negatifnya terhadap kesehatan. Penyuluhan ini dapat dilakukan melalui kerja sama dengan lembaga kesehatan dan organisasi masyarakat.

“Dan siapkan juga program rehabilitasi bagi masyarakat yang sudah kecanduan. Pastikan korban tidak lagi mengkonsumsi minuman alkohol oplosan itu,” terang Arzeti.

Lebih lanjut, Arzeti mengatakan pengawasan dan edukasi tidak mungkin berhasil jika dijalankan oleh Pemda sendiri. “Peran aktif masyarakat dalam memerangi peredaran minuman keras oplosan juga sangat dibutuhkan. Misalnya dengan melaporkan aktivitas mencurigakan kepada pihak berwenang,” tambahnya.

Di sisi lain, Arzeti mendorong Pemda membuat alternatif hiburan yang sehat bagi warganya. Hal ini guna mengurangi aktivitas masyarakat yang kurang sehat, seperti mengonsumsi minuman alkohol oplosan.

"Termasuk penting juga dilakukan penyuluhan kepada penjual minuman ini untuk beralih berdagang produk makanan/minuman yang aman bagi masyarakat sebagai konsumen,” tutup Arzeti.[dnl]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK