Diskusi Millenial Public Pulse 28: Ahok Dorong Transparansi Anggaran untuk Generasi Muda
Teknologi seharusnya membuat kebocoran anggaran lebih mudah dicegah, bukan dibiarkan.
FAKTANASIONAL.NET — Dialog antargenerasi yang digelar DPP PDI Perjuangan Bidang Pemuda dan Olahraga bersama Millennium Public Pulse 28 pada Rabu (28/10/2026) tidak berhenti pada soal identitas anak muda.
Empat narasumbernya — Tom Lembong, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Saddam Permana, dan Gustika Jusuf Hatta — menghabiskan sebagian besar diskusi yang dimoderatori M. Syaeful Mujab pada soal ekonomi, anggaran, dan cara negara mengelola uang rakyat.
Sebabnya satu: menurut mereka, di situlah masa depan Generasi Z ditentukan.
Ahok mengangkat sisi yang teknis: transparansi anggaran. Menurutnya, teknologi seharusnya membuat kebocoran anggaran lebih mudah dicegah, bukan dibiarkan. Ia mengklaim pernah menerapkannya saat memimpin Jakarta.
"Saya di DKI berani buka semua. Sampai beli air minum kemasan Anda bisa baca di dalam website," ujarnya.
Dari pengalaman itu, Ahok mendorong pemanfaatan sistem anggaran berbasis teknologi, sekaligus agar publik menyuarakan pentingnya undang-undang pembuktian terbalik harta pejabat — supaya negara bisa menyita kekayaan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Ahok juga menyoroti pembagian hasil sumber daya alam: daerah penghasil semestinya memperoleh bagian lebih besar."Kalau produksi emas 1.000 ton, 200 ton adalah milik daerah. Tinggal pusat dapat 20 persen sebagai management cost," katanya.
Ia menegaskan bahwa jabatan publik bukan soal kekuasaan, melainkan pengelolaan keadilan sosial. "Jadi kita harus jadi pejabat adalah administrator untuk mewujudkan keadilan sosial," ujar Ahok.
Dari sisi penegakan hukum, Saddam Permana menyoroti pola yang ia sebut "no viral, no justice" — kasus hanya berjalan bila ramai di media sosial. "Kalau kita membahas sustainability, I do believe that responsibility terbesar ada pada aparat penegak hukum itu sendiri," katanya.
Sedangkan Gustika Jusuf Hatta menyoroti prioritas anggaran. Ia menyebut minat baca Generasi Z justru meningkat menurut sejumlah riset, tetapi anggaran perpustakaan dipotong. "Tapi dengan fakta itu, malahan anggaran perpustakaan dipotong," ujarnya.
Bagi Gustika, keputusan anggaran semacam itu menunjukkan masalah yang lebih mendasar: data sudah tersedia, tetapi tidak dipakai untuk mengambil kebijakan. "Banyak data yang dikumpulkan dengan banyak tenaga yang selalu disodorkan ke pembuat kebijakan tapi selalu kayanya nggak pernah dilihat," katanya.
Dialog ini merupakan bagian rangkaian peringatan 98 tahun Sumpah Pemuda yang digelar PDI Perjuangan.
Millennium Public Pulse 28 dirancang sebagai ruang dialektika setiap tanggal 28 hingga puncak satu abad Sumpah Pemuda pada 2028. Pesan yang mengemuka dari forum ini sederhana: kebijakan anggaran hari ini adalah nasib generasi muda dua puluh tahun ke depan.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.