Kapolri Suyudi Tak Usah Pelihara Tukang Jilat
FAKTANASIONAL.NET - Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto diharapkan tidak memelihara lingkungan yang dipenuhi pengamat dan organisasi yang terus memberikan apresiasi tanpa penilaian kritis. Pujian membabi buta berisiko merusak kredibilitas kepemimpinan…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto diharapkan tidak memelihara lingkungan yang dipenuhi pengamat dan organisasi yang terus memberikan apresiasi tanpa penilaian kritis.
Pujian membabi buta berisiko merusak kredibilitas kepemimpinan dan institusi Polri karena mengaburkan persoalan, melemahkan koreksi, serta membuat masyarakat meragukan kejujuran setiap pembelaan yang disampaikan.
Suyudi diharapkan menunjukkan sikap tegas dengan membuka ruang kritik, menanggapi keluhan berdasarkan fakta, dan menempatkan perbaikan pelayanan sebagai dasar membangun kepercayaan.
Kedekatan dengan pimpinan kepolisian tidak boleh menjadi jalan istimewa bagi pemberi pujian untuk memperoleh pengaruh atau mengatasnamakan dukungan masyarakat.
Sebutan “tukang apresiasi” merujuk pada pola penilaian yang selalu berakhir dengan pujian, apa pun tindakan dan hasilnya.
Ketika keberhasilan dipuji, keputusan rutin diagungkan, dan kegagalan terus dibenarkan, masyarakat sulit menemukan standar yang dipakai.
Pengamat kehilangan independensi, sementara organisasi kehilangan fungsi pengawasan yang memberi nilai pada keberadaannya.
Pola tersebut dapat berbalik membebani Kapolri. Apabila pembelaan yang beredar tidak sejalan dengan pengalaman masyarakat, publik dapat melihat pimpinan kepolisian sebagai sosok yang lebih sibuk dipuji daripada mendengar keluhan.
Bahkan prestasi yang benar-benar dicapai berisiko tenggelam dalam kecurigaan karena disampaikan oleh pihak yang terbiasa membenarkan setiap tindakan.
Bahaya lingkungan yang dipenuhi persetujuan dijelaskan Irving Janis melalui teori groupthink. Dorongan menjaga kesepakatan dapat menekan pendapat berbeda, menyisihkan informasi yang mengganggu, dan membentuk keyakinan bahwa kelompok selalu benar.
Kerangka ini memberi peringatan bagi kepemimpinan Polri: apabila kritik terus disingkirkan, keputusan dapat kehilangan pengujian yang dibutuhkan untuk mencegah kesalahan.
Risiko berikutnya dijelaskan Elizabeth Morrison dan Frances Milliken melalui konsep organizational silence, yaitu kondisi ketika informasi tentang persoalan organisasi tertahan secara kolektif.
Jika anggota melihat bahwa pujian mendapat tempat sementara kritik mendatangkan tekanan, mereka dapat memilih diam. Akibatnya, pimpinan menerima gambaran yang tampak baik meskipun persoalan pelayanan dan pengawasan terus berlangsung.
Dari sisi komunikasi, penelitian Carl Hovland dan Walter Weiss menunjukkan bahwa kredibilitas sumber memengaruhi penerimaan pesan. Implikasinya, apresiasi dari pihak yang diragukan independensinya dapat kehilangan daya meyakinkan.
Polri berisiko ikut menanggung kerugian reputasi ketika keberhasilannya dibela melalui pernyataan berlebihan yang mengabaikan fakta dan pengalaman warga.
Penelitian Tom R. Tyler mengenai legitimasi kepolisian menempatkan keadilan perlakuan sebagai unsur penting kepercayaan masyarakat. Kesempatan warga untuk didengar, netralitas keputusan, penghormatan terhadap martabat, dan keterpercayaan aparat memiliki pengaruh terhadap penilaian publik.
Karena itu, pembelaan yang meremehkan keluhan warga justru berisiko melemahkan hubungan yang menopang legitimasi Polri.
Kapolri diharapkan menjaga saluran pengaduan yang dapat diakses, memastikan kritik berbasis fakta ditindaklanjuti, serta menilai masukan berdasarkan isinya.
Pengamat dan organisasi juga bertanggung jawab menjaga independensi dengan menerapkan standar yang sama saat mengakui keberhasilan maupun mengoreksi kegagalan.
Kredibilitas Suyudi dan Polri akan menguat apabila masyarakat melihat persoalan ditangani secara adil dan kesalahan diperbaiki secara terbuka.Memelihara pujian tanpa batas hanya akan memperlebar jarak antara citra dan kenyataan, sedangkan keberanian menerima koreksi memberi masyarakat alasan untuk percaya.
Oleh: HAMDI PUTRA (Forum Sipil Bersuara/FORSIBER)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.