Kongres X GPM, Hasto: Setia di Jalan Ideologi Marhaenisme
Sekjen PDIP Hasto menyampaikan salam dan tiga pesan Megawati kepada keluarga besar GPM.
FAKTANASIONAL.NET - Kongres ke-10 (Kongres X) Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) dibuka pada Rabu (28/10/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98. Kongres bertema
"Marhaenist Future: Dedication of Life, Tetap Setia di Jalan Ideologi" itu menghadirkan peserta dari dewan pimpinan daerah dan cabang GPM dari sejumlah provinsi.
Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto hadir mewakili Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.
Dalam sambutannya, Hasto menyampaikan salam dan tiga pesan Megawati kepada keluarga besar GPM.
"Yang pertama adalah salam hangat buat seluruh keluarga Gerakan Pemuda Marhaenis. Kemudian yang kedua Ibu Mega mengingatkan untuk terus pelajari pemikiran-pemikiran Bung Karno tentang marhaenisme," kata Hasto.
"Kemudian yang ketiga pesan bagi kepengurusan yang nanti terbentuk dari hasil kongres ini untuk jangan lupa berziarah ke tempat Bapak Marhaen," lanjutnya.
Ketua Umum DPP GPM Izedrik Emir Moeis mengatakan kongres ini menjadi titik konsolidasi organisasi yang berdiri sejak 1947. Ia menyebut GPM kini memiliki 22 dewan pimpinan daerah dan 78 dewan pimpinan cabang.
"Kita berusaha supaya lengkap jadi 35 DPD," ujar Emir Moeis.
Ia juga menyoroti upaya GPM memperkenalkan marhaenisme kepada generasi muda. Menurut dia, istilah marhaenisme sempat tidak dikenal di ruang pendidikan. "Coba kita datang ke SMA-SMA, kita ajak ngobrol, tidak ada yang tahu marhaenisme," katanya.
Ketua panitia Kongres X GPM Boy Ericko Pandu menyatakan kongres digelar pada momentum Sumpah Pemuda karena tempat dan hari itu dinilai sebagai simbol persatuan. "Kongres ini harus melahirkan gagasan yang radikal, dinamis, dan revolusioner untuk menjawab tantangan zaman saat ini," ujarnya.
Pemerintah hadir melalui Kementerian Dalam Negeri. Direktur Organisasi Kemasyarakatan Kemendagri Wahyu Chandra Kusuma mewakili Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian. Ia menyinggung soal penyebutan rakyat kecil dalam diskursus marhaenisme.
"Bung Karno mengajarkan kegagahan, Bung Karno mengajarkan keberanian. Sehingga dalam forum ini kami memohon, jangan disebut lagi wong cilik. Yang dikatakan wong cilik itulah pemilik negeri ini yang sesungguhnya," kata Candra.
Ia juga menyampaikan pengalaman keluarganya. "Kakek saya tinggal di Desa Pujon, Kabupaten Malang, beliau petani. Di tembok terpampang foto Bung Karno. Itulah sehingga kakek kami menyampaikan bahwasanya mbahmu iki Marhaen," tuturnya.
Saat pembukaan kongres terlihat hadir antara lain Ketua DPP PDI Perjuangan Ribka Tjiptaning dan senior partai Yakobus Mayong Padang.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.