Menkomdigi Jawab Ancaman Singapura Potong Internet RI: 80 Persen Konektivitas Mereka Bisa Terganggu
FAKTANASIONAL.NET - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid merespons pernyataan mantan anggota parlemen Singapura, Calvin Cheng, yang menyinggung kemungkinan pemutusan konektivitas internet Indonesia. Meutya menegaskan, infra…
FAKTANASIONAL.NET - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid merespons pernyataan mantan anggota parlemen Singapura, Calvin Cheng, yang menyinggung kemungkinan pemutusan konektivitas internet Indonesia.
Meutya menegaskan, infrastruktur kabel bawah laut yang menghubungkan kedua negara tidak hanya menjadi kepentingan Singapura.
Melalui unggahan Instagram pribadinya, Selasa (27/10), Meutya mengingatkan bahwa sebagian besar jalur Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) yang menuju Singapura melewati perairan Indonesia.
"Kita tidak perlu geram. Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) yang mendarat di Singapura, tidak sampai dengan tiba-tiba. Sebagian besar jalurnya melalui perairan Indonesia," tulis Meutya.
Ia menjelaskan, pemutusan kabel laut berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap konektivitas digital Singapura. Bahkan, sekitar 80 persen kapasitas konektivitas negara tersebut disebut terancam lumpuh apabila kabel mengalami kerusakan atau sengaja diputus.
"Jika terpotong atau dipotong, 80 persen kapasitas konektivitas Singapura juga terancam lumpuh," ujarnya.
Meutya juga menyoroti besarnya pasar digital Indonesia yang memiliki peran strategis bagi investasi perusahaan teknologi global di Singapura.
Menurutnya, jumlah penduduk Indonesia mencapai 47 kali lipat dibandingkan Singapura. Selain itu, sebanyak 267 juta masyarakat Indonesia telah terhubung dengan internet.
"Tanpa angka ini, investor perusahaan teknologi global berpotensi angkat kaki dari Singapura," tuturnya.
Ia menegaskan, infrastruktur digital harus dipandang sebagai kepentingan bersama yang menopang konektivitas lintas negara.
"Kita tidak boleh berpikir kerdil. Infrastruktur digital adalah sektor yang perlu dijaga bersama, tidak hanya untuk kepentingan kedua negara tapi juga untuk konektivitas global," tandasnya.
Pernyataan tersebut muncul setelah Calvin Cheng mengunggah infografis mengenai ketergantungan internet Indonesia terhadap Singapura melalui akun X @calvinelcheng, Minggu (25/10).
Infografis bertajuk Indonesia's Internet Dependence on Singapore itu mengklaim sekitar 90 persen lalu lintas internet internasional Indonesia melewati Singapura.
Calvin menggambarkan Singapura sebagai gerbang utama konektivitas internet Indonesia melalui pusat data, layanan komputasi awan, dan kabel bawah laut. Ia menyertakan pertanyaan singkat, "Cut?" atau "Potong?"
Namun, Calvin kemudian menegaskan Singapura tidak akan memutus konektivitas tersebut.
"Kami adalah orang-orang beradab yang taat hukum. Tentu saja kami tidak akan melakukan hal ini," tulis Calvin.
Unggahan Calvin muncul di tengah perhatian terhadap kebijakan pemerintah Indonesia mengurangi pasokan gas alam ke Singapura.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menegaskan bahwa pemangkasan ekspor gas tidak melanggar kontrak.
Bahlil menjelaskan, ekspor gas pipa Indonesia ke Singapura mencapai 409,55 BBTUD dari Laut Natuna dan Sumatera. Pemerintah memangkas 31 BBTUD atau sekitar 8 persen, tetapi jumlah tersebut masih memenuhi batas minimum kontrak.
"Jangan ajari Indonesia terhadap komitmen untuk menjaga menghargai kontrak. 31 BBTUD yang kita potong itu adalah masih di batas kontrak minimum," tegasnya dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (26/10).
Menurut Bahlil, kebijakan tersebut mempertimbangkan kebutuhan domestik, dinamika geopolitik global, pemeliharaan fasilitas produksi gas, serta upaya menjaga ketahanan energi nasional.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.