Lumbung Pangan Timur Menyala! Pertanian Modern Merauke Dibidik Hasilkan Rp13 Triliun per Tahun
FAKTANASIONAL.NET — Kawasan pertanian di Merauke, Papua Selatan, kini tengah dipersiapkan menjadi motor utama lumbung pangan di kawasan timur Indonesia. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memproyeksikan, nilai produksi pertanian di wilay…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET — Kawasan pertanian di Merauke, Papua Selatan, kini tengah dipersiapkan menjadi motor utama lumbung pangan di kawasan timur Indonesia.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memproyeksikan, nilai produksi pertanian di wilayah ujung timur ini berpotensi meroket hingga mencapai sekitar Rp13 triliun per tahun lewat strategi masif cetak sawah, modernisasi, dan peningkatan produktivitas lahan.
Target fantastis tersebut bukan tanpa alasan. Berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan), tren nilai produksi pertanian Merauke terus merangkak naik secara signifikan:
-
2023: Rp523 miliar (Luas panen: 44.808 hektare | Produksi GKP: 222.579 ton)
-
2024: Rp746 miliar
-
2025: Rp1,35 triliun (Luas panen: 79.428 hektare | Produksi GKP: 439.412 ton)
Dalam acara Tanam Padi Bersama di Lahan Cetak Sawah Rakyat di Merauke, Sabtu (4/7), Mentan Amran menegaskan lompatan besar dari angka bulanan saat ini menuju target tahunan bisa diwujudkan dengan syarat yang terukur.
Baca Juga: Polisi Selidiki Soal Kepala Kantor Bandara Wilayah X Merauke Injak Alquran
"Sekarang penghasilannya kurang lebih Rp1,3 triliun (per bulan). Kalau ini dijaga dengan baik saya hitung bisa Rp13 triliun nanti pendapatannya (setahun). Tapi syaratnya tiga kali tanam, kemudian produksinya 7 ton," kata Amran.
Kunci Rp13 Triliun: Kawal 100 Ribu Hektare & Metode PM AAS
Pemerintah fokus mengawal pengembangan kawasan pertanian seluas 100 ribu hektare. Melalui implementasi teknologi budidaya terbaru bernama Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM AAS), indeks pertanaman ditargetkan naik menjadi tiga kali dalam setahun (IP 300).
Metode PM AAS ini diproyeksikan mampu mendongkrak produktivitas minimal 7 ton gabah per hektare, bahkan di beberapa lokasi berpotensi menyentuh angka 10 ton per hektare.
Seluruh fasilitas penunjang juga dipastikan mengalir langsung ke tangan masyarakat setempat.
"Tolong kawal ini 100 ribu hektare, ditanami dengan baik. Dan prioritaskan saudara-saudara kita yang tinggal di sini. Ini saya ulangi lagi, 100 ribu (hektare sawah) ini milik bapak-ibu (rakyat). Traktor ini milik bapak-ibu. Semua alat yang kami kirim milik bapak-ibu. Tidak ada di sini milik BUMN kecuali gudangnya yang kita siapkan," tegas Mentan.
Untuk menyerap hasil panen agar lebih maksimal, Kementan juga menjanjikan pembangunan fasilitas pengering gabah (dryer) serta gudang penyimpanan komoditas di Merauke pada tahun ini.
Pendapatan Petani Melejit, Berpeluang Kantongi Rp27 Juta per Bulan
Modernisasi dan program cetak sawah ini terbukti nyata menggemukkan dompet para petani lokal. Data Kementan mencatat pendapatan petani naik 30 persen pada periode 2023-2024, lalu melesat lagi 40 persen pada 2024-2025. Secara kumulatif, kesejahteraan mereka melonjak sekitar 80 persen dalam dua tahun terakhir.
Bahkan, Bupati Merauke Yoseph Bladib Gebze melaporkan dalam pidatonya bahwa di sejumlah titik tertentu, lonjakan pendapatan real di lapangan mencatatkan angka yang jauh lebih impresif.
"Tadi Pak Bupati menyampaikan dalam pidatonya dan kami mengecek data, meningkat pendapatannya 300 persen. Inilah tujuan kita," ujar Amran menyambut baik laporan tersebut.
Kedepannya, bagi petani yang telah sepenuhnya mengadopsi pola mekanisasi dan sistem tanam modern, peluang pendapatan bersih bisa menyentuh angka puluhan juta rupiah.
"Setelah dia sudah ketagihan dapat Rp27 juta per bulan, saya yakin disuruh tidak disuruh tanam sendiri. Baru kita bergeser lagi tempat lain. Tapi 100 ribu hektare ini harus dikawal," imbuh Amran optimistis.
Dukungan Penuh Pemerintah Daerah
Peluang Merauke menjadi raksasa pangan memang terbuka sangat lebar.
Bupati Merauke Yoseph Bladib Gebze memaparkan bahwa dari total 4,6 juta hektare luas wilayahnya, terdapat sekitar 1,2 juta hektare lahan yang siap dialokasikan sebagai kawasan pertanian produktif.
Saat ini, program cetak sawah rakyat dan optimalisasi lahan sudah berjalan aktif di 12 distrik.
Yoseph berharap sinergi erat dengan pemerintah pusat ini mampu mengerek total produksi padi daerah hingga 300 persen sekaligus mengunci posisi Merauke sebagai pilar ketahanan pangan utama di wilayah Indonesia Timur.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.