Mutasi Irjen Pipit Rismanto, Pabrik di Sanggau, Hingga Pemeriksaan Kompol Yoan
FAKTANASIONAL.NET - Irjen Pipit Rismanto disebut mulai membongkar pabrik tapioka di Kabupaten Sanggau dan mengganti nama sejumlah asetnya di Kalimantan Barat setelah dimutasi menjadi Staf Ahli Menteri Hukum Bidang Politik dan Keamanan.
FAKTANASIONAL.NET - Irjen Pipit Rismanto disebut mulai membongkar pabrik tapioka di Kabupaten Sanggau dan mengganti nama sejumlah asetnya di Kalimantan Barat setelah dimutasi menjadi Staf Ahli Menteri Hukum Bidang Politik dan Keamanan.
Langkah itu diduga berkaitan dengan pergantian Kapolri yang mulai membersihkan jajarannya dari oknum-oknum bermasalah, termasuk diperiksanya kaki tangan Pipit oleh mabes Polri, Kompol Yoan Febriawan.
Baca Juga: Kompol Yoan Diamankan Propam Mabes Polri ke Jakarta
Menurut narasumber tersebut, Pipit sebelumnya membangun sejumlah fasilitas di Kalimantan Barat, mulai dari pabrik, vila, hingga lapangan golf. Ia juga disebut memiliki keterkaitan dengan perusahaan bernama PT RBN yang bergerak di bidang tapioka. Menurut sumber itu, perusahaan tersebut menggunakan nama anak Pipit.
Narasumber yang meminta identitasnya dirahasiakan itu untuk sementara disebut Bima. Ia mengaku mengetahui aktivitas Pipit di wilayah Kabupaten Sanggau, di kawasan Tayan, ketika Pipit masih bertugas di Kalimantan Barat.
Bima menduga perubahan penugasan Pipit setelah pergantian Kapolri menjadi salah satu faktor yang mendorong perubahan pengelolaan aset-aset tersebut.
"Setelah pergantian Kapolri, posisinya berubah. Dia sekarang ditempatkan sebagai staf ahli di Kementerian Hukum. Setelah itu, menurut informasi yang saya ketahui, pabriknya di Sanggau dibongkar dan sejumlah aset mulai dipindahkan atau diganti namanya," kata Bima.
Menurut Bima, kabar pemeriksaan Kompol Yoan Febriawan oleh Propam Mabes Polri juga diduga menjadi salah satu faktor yang membuat Pipit khawatir. Ia menduga pemeriksaan terhadap mantan pejabat Polda Kalbar tersebut berpotensi mengungkap informasi yang dapat mengarah kepada Pipit.
"Apalagi sekarang ada informasi Kompol Yoan diperiksa Propam Mabes Polri. Saya menduga Pipit mulai khawatir karena pemeriksaan itu bisa saja berkembang dan mengarah kepada dirinya. Itu yang menurut saya perlu ditelusuri lebih jauh," kata Bima.
Bima mengatakan, ketika masih menjabat Kapolda Kalimantan Barat, Pipit disebut kerap mendatangi wilayah Tayan pada Sabtu dan Minggu. Kunjungan tersebut dikaitkan dengan sebuah pabrik tapioka yang menurut narasumber telah dibeli Pipit di kawasan itu.
Menurut Bima, perjalanan tersebut tidak selalu dilakukan dengan pengawalan resmi. Pipit disebut terkadang hanya menggunakan kendaraan dengan seorang sopir sipil.
Narasumber itu juga menduga perjalanan tersebut digunakan untuk menemui Sudianto alias Aseng dan sejumlah orang lain yang disebut memiliki hubungan bisnis dengannya.
"Kalau akhir pekan, Sabtu atau Minggu, dia disebut sering pergi ke wilayah Tayan. Di sana ada pabrik tapioka yang menurut informasi saya dibelinya. Perjalanannya terkadang hanya dengan sopir sipil, tanpa pengawalan yang biasa terlihat pada seorang pejabat," ujar Bima.
Bima menduga pertemuan di kawasan tersebut berkaitan dengan pembagian hasil. Namun, ia belum memberikan bukti transaksi, catatan keuangan, atau dokumen lain yang dapat memastikan dugaan tersebut.
Ia juga menyebut adanya dugaan pengaturan perjalanan untuk menimbulkan kesan bahwa Pipit sedang berada di Jakarta.
Menurut Bima, pemesanan tiket pesawat menuju Jakarta disebut dilakukan dalam rangka mengalihkan perhatian dari aktivitas yang sebenarnya berlangsung di Kalimantan Barat.
Dalam keterangannya, Bima menyebut Kompol Yoan Febriawan sebagai salah satu anggota kepolisian yang menurutnya mengetahui aktivitas tersebut. Ia juga menyebut seorang yang sering disebut Elang, yang berasal dari Jakarta.
Keduanya, menurut Bima, disebut mengetahui atau pernah terlibat dalam pengawalan perjalanan Pipit.
Bima mengatakan Yoan dan Elang dapat menjadi pihak yang mengetahui pola perjalanan Pipit ke wilayah Tayan, termasuk perjalanan yang disebut berlangsung pada akhir pekan.
"Kalau ingin mengetahui bagaimana pola perjalanan itu, ada orang-orang yang menurut saya mengetahui. Nama Kompol Yoan dan seseorang bernama Elang perlu ditelusuri. Mereka disebut mengetahui atau pernah mengawal perjalanan tersebut," kata Bima.
Selain itu, ketika masih menjabat Kasubdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Kalbar, Yoan pernah pasang badan dengan menyatakan, tidak menemukan penyimpangan dalam aktivitas PT Enggang Jaya Makmur (EJM), salah satu Perusahaan milik Aseng maupun PT Aneka Tambang (Antam) di wilayah konsesi Desa Enggadai, Kabupaten Sanggau.
Pernyataan tersebut kemudian berbanding terbalik dengan langkah aparat penegak hukum pusat yang menemukan indikasi pelanggaran di wilayah konsesi PT Antam yang diduga berkaitan dengan aktivitas PT EJM. Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Energi dan Sumber Daya Mineral Kementerian ESDM RI kemudian meningkatkan penanganan perkara tersebut ke tahap penyidikan.
Aseng, Pipit dan Volly
Dalam informasi yang dihimpun, Aseng disebut menjadi sponsor besar dalam sejumlah penyelenggaraan pertandingan bola voli, termasuk Proliga dan AVC yang berlangsung di Pontianak.
Nama Aseng juga disebut sebagai salah satu sponsor utama tim bola voli Bhayangkara Presisi. Tim tersebut pernah berada dalam pengelolaan yang dikaitkan dengan Pipit ketika ia menjabat Kapolda Kalimantan Barat.
Menurut informasi narasumber, Aseng kerap terlihat menghadiri pertandingan Bhayangkara Presisi. Ia disebut duduk di belakang atau berdekatan dengan Pipit bersama sejumlah pejabat Polda Kalimantan Barat ketika tim tersebut bertanding.
Kehadiran Aseng dalam kegiatan olahraga dan posisinya di antara para pejabat kepolisian, apabila dapat diverifikasi melalui foto, video, atau dokumentasi acara, dapat menjadi bagian dari penelusuran hubungan sosial dan bisnis di antara pihak-pihak tersebut.
Elang Membantah Mengetahui Aktivitas Pipit
Menanggapi informasi tersebut, pihak yang sebelumnya disebut narasumber dengan nama Elang membantah mengetahui aktivitas Pipit Rismanto di wilayah Tayan, Kabupaten Sanggau. Ia menegaskan tidak pernah mendampingi ataupun mengawal Pipit, serta tidak mengetahui keberadaan pabrik tapioka maupun perusahaan PT RBN yang disebut dalam pemberitaan.
"Saya tidak pernah sama sekali mendampingi, apalagi mengawal beliau. Saya tidak memiliki kapasitas apa pun, hanya sebatas pengusaha kecil di bidang kontraktor sewa alat. Tidak ada kaitan dengan Pipit, apalagi kedekatan," tulisnya dalam pesan konfirmasi kepada Redaksi Fakta Kalbar.
Ia juga membantah mengetahui dugaan pertemuan Pipit dengan Sudianto alias Aseng maupun aktivitas di pabrik tapioka yang disebut berada di wilayah Tayan. Menurutnya, hubungannya dengan sejumlah pihak hanya sebatas relasi pekerjaan di bidang jasa penyewaan alat.
Pihak tersebut turut meluruskan penyebutan nama Elang. Ia menyatakan bahwa Elang merupakan nama tim kerja, bukan nama dirinya.
"Saya hanya sebatas kenal, bukan dekat atau memiliki posisi tertentu di antara mereka. Sampai sekarang saya masih di Kalbar mencari nafkah sebagai kontraktor sewa alat. Saya juga tidak pernah tahu pabrik itu, lokasinya di mana, bergerak di bidang apa, bahkan nama PT tersebut tidak pernah saya dengar," tulisnya.
Redaksi Fakta Kalbar telah menghubungi Irjen Pol. Pipit Rismanto untuk meminta klarifikasi terkait dugaan pembongkaran pabrik tapioka, perubahan nama sejumlah aset, keterkaitannya dengan PT RBN, serta informasi mengenai kunjungan ke Tayan dan dugaan pertemuan dengan Sudianto alias Aseng. Namun, hingga berita ini disusun, pesan konfirmasi tersebut belum mendapat balasan.
Redaksi Fakta Kalbar juga berupaya menghubungi Kompol Yoan Febriawan melalui nomor WhatsApp pribadinya untuk meminta konfirmasi terkait informasi pemeriksaan oleh Propam Mabes Polri serta sejumlah hal lain yang berkaitan dengan pemberitaan ini. Namun, hingga berita ini disusun, pesan yang dikirimkan masih menunjukkan centang satu.
(Tim FK)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.