Fakta Nasional

O... Kasihan, Ia Sesak Napas di Karhutla di Sampit Kalteng

FAKTANASIONAL.NET - Video yang memperlihatkan seekor monyet lemas dan sesak napas akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sampit, Kalimantan Tengah, viral di media sosial. Video itu pertama kali diunggah oleh akun Instagram @harie. BACA JUGA…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Djono W Oesman Editor: Redaksi 📍 Nasional Saturday, 12 September 2026 📖 3 menit
O... Kasihan, Ia Sesak Napas di Karhutla di Sampit Kalteng
Monyet ini lemas dan sesak napas akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sampit, Kalimantan Tengah. Foto: Instagram

FAKTANASIONAL.NET - Video yang memperlihatkan seekor monyet lemas dan sesak napas akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sampit, Kalimantan Tengah, viral di media sosial.

Video itu pertama kali diunggah oleh akun Instagram @harie.

BACA JUGA

Orang Utan Raya dan Rayu Selamat dari Karhutla di Sampit

Dalam rekaman tersebut, tampak seekor monyet ekor panjang tergeletak lemah dan nyaris tak berdaya. Primata itu kesulitan bernapas akibat asap pekat yang menyelimuti lokasi kebakaran.

Seorang penyelamat satwa (animal rescuer) bernama Harie kemudian berusaha menyelamatkan monyet tersebut. Ia tampak menggoyangkan kepala sang monyet secara perlahan untuk memastikan kondisinya.

Tak lama kemudian, monyet itu mulai sadar dan perlahan-lahan bangkit hingga terduduk.

Video aksi heroik tersebut menyedot perhatian luas dari warganet. Hingga Jumat (11/9/2026), video yang diunggah Harie telah ditonton lebih dari 3 juta kali dan memanen belasan ribu komentar. Banyak warganet merasa sedih dan prihatin melihat dampak karhutla yang mengancam keselamatan satwa liar.

Ditemukan Terpisah dari Kelompoknya

BACA JUGA

BNPB Kerahkan 15 Ribu Personel Hadapi Karhutla Kalbar

Harie menjelaskan bahwa ia menemukan monyet muda tersebut saat menyisir kawasan lingkar luar Jalan Soekarno Hatta, Sampit, pada Kamis (10/9/2026) siang. Penyisiran itu sengaja dilakukan untuk mencari satwa-satwa yang terdampak kebakaran.

Saat ditemukan, kondisi monyet yang terpisah dari kelompoknya itu sudah sangat memprihatinkan hingga sempat dikira telah mati.

"Kondisinya memang sudah ngap-ngapan dan kesulitan bernapas. Saat ditemukan, saya kira sudah mau mati karena kondisinya sangat lemah," ujar Harie kepada Tribunnews.com, Jumat (11/9/2026).

Monyet tersebut segera dievakuasi ke dokter hewan untuk mendapatkan penanganan medis. Setelah kondisinya membaik dan mau makan serta minum, Harie merawatnya secara mandiri sebelum akhirnya dilepasliarkan.

Keesokan harinya, Harie dan tim melepasliarkan kembali monyet tersebut di kawasan Mentaya Seberang—lokasi yang aman, jauh dari permukiman maupun area kebakaran.

"Setelah kondisinya membaik, dia mau makan pisang dan minum. Akhirnya keesokan harinya langsung kami lepasliarkan di daerah Mentaya Seberang yang jauh dari permukiman dan area kebakaran," sambungnya.

Temukan Ular, Kura-Kura, hingga Burung

BACA JUGA

Prabowo Murka soal Karhutla, Kapolri Diminta Kejar Korporasi hingga Cabut Izinnya

Selama penyisiran kawasan terdampak karhutla, Harie dan tim tidak hanya menemukan monyet, tetapi juga berbagai jenis satwa lain seperti ular, kura-kura, dan burung. Sebagian satwa ditemukan dalam kondisi hidup, sementara lainnya sudah mati.

Satwa-satwa tersebut didokumentasikan dan diunggah ke media sosial sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat mengenai dampak nyata karhutla terhadap ekosistem.

"Satwa-satwa tersebut kami dokumentasikan dan bagikan di media sosial agar warganet bisa melihat langsung dampak kebakaran terhadap satwa," tuturnya.

10 Tahun Berdedikasi Menyelamatkan Satwa
Aksi penyelamatan ini bukanlah hal baru bagi Harie. Ia mengaku telah berfokus pada penyelamatan satwa selama lebih dari 10 tahun.

Awalnya, ia aktif sebagai petugas penyelamat panggilan (animal rescuer) yang biasa menangani laporan warga terkait keberadaan ular, buaya, dan reptil lainnya.

"Kegiatan kami berkelanjutan setiap hari, tidak hanya saat kebakaran lahan saja. Sebelum kebakaran pun kami memang fokus pada penyelamatan satwa," jelas Harie.

BACA JUGA

Bahaya Kabut Asap Karhutla di Pontianak, Bank Kalbar Turun Tangan Bagikan Masker ke Nasabah

Selain bergerak secara mandiri, Harie juga bermitra dengan Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Sampit sebagai pelatih penanganan ular (snake handler) untuk mengasah keterampilan para petugas.

Harie berharap insiden ini dapat menjadi pengingat bahwa karhutla tidak hanya berdampak pada manusia, melainkan juga menghancurkan habitat satwa liar. Terlebih, beberapa satwa yang terdampak merupakan spesies dilindungi dan terancam punah, seperti orangutan dan trenggiling.

"Pesan yang ingin disampaikan sederhana: semua makhluk bisa hidup berdampingan dan kelestarian alam tetap dijaga. Kalau manusia sudah banyak yang membantu, sedangkan fokus kami memang pada satwa-satwa yang terdampak karhutla," terangnya.

Saat ditanya alasan di balik dedikasinya yang konsisten selama bertahun-tahun, Harie memberikan jawaban ringkas.

"Alasannya dari hati. Kami memang mencintai satwa dan murni ingin menolong mereka," pungkasnya. (*)


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK