Progres Pemulihan Sumatera: Mendagri Sebut Jumlah Pengungsi Menyusut Hingga di Bawah 13 Ribu Jiwa
FAKTANASIONAL.NET – Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian melaporkan adanya penurunan drastis pada angka pengungsian pascabencana besar yang melanda wilayah Sumatera. Berdasarkan data terbaru per Februari 2026, jumlah warga yang masih bertahan di tend…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET – Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian melaporkan adanya penurunan drastis pada angka pengungsian pascabencana besar yang melanda wilayah Sumatera.
Berdasarkan data terbaru per Februari 2026, jumlah warga yang masih bertahan di tenda pengungsian kini berada di angka 12.994 orang, turun signifikan dari jutaan jiwa pada akhir tahun lalu.
Sebagai Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, Tito menjelaskan bahwa upaya relokasi dan penyediaan hunian sementara (huntara) mulai menunjukkan hasil nyata.
Salah satu pencapaian menonjol terlihat di wilayah Sumatra Barat.
Pemerintah memastikan koordinasi di tingkat kabupaten dan kota telah berhasil memindahkan seluruh penyintas dari tenda-tenda darurat ke hunian yang lebih layak.
Baca Juga: Kisah Para Dokter Diaspora dan Relawan PDIP Membantu Korban Bencana Sumatera
"Jadi Alhamdulillah untuk Sumatra Barat kami sudah melakukan pengecekan di 16 kabupaten kota yang terdampak, tidak terdapat pengungsi di tenda," ujar Tito saat menyampaikan laporan di Gedung DPR RI, Kamis (19/2/2026).
Mantan Kapolri tersebut menjelaskan bahwa sebagian warga telah kembali secara mandiri ke rumah yang rusak ringan, sementara mereka yang rumahnya rusak berat telah difasilitasi huntara atau bantuan hunian dari pemerintah.
Meskipun angka total menurun, konsentrasi pengungsi masih terpantau di dua provinsi lainnya. Di Aceh, tercatat sebanyak 12.144 warga masih mengungsi, terutama di wilayah Aceh Utara.
Sementara di Sumatera Utara, khususnya Tapanuli Tengah, masih terdapat 850 jiwa yang bertahan di tenda.
"Pengungsi tadinya dua juta lebih sekarang menjadi lebih kurang 12.994 yang ada di tenda," kata Tito membandingkan kondisi terkini dengan puncak krisis pada Desember 2025 lalu.
Tito menegaskan bahwa fokus Satgas kini bergeser pada pemulihan aksesibilitas dan sarana publik.
Di wilayah Tapanuli, kendala utama yang dihadapi adalah material kayu yang menutup akses jalan serta sedimentasi sungai yang meningkatkan risiko banjir susulan.
Sementara itu, di Aceh, prioritas ditekankan pada sektor pendidikan dan infrastruktur jalan.
Perbaikan sekolah di Bener Meriah, Bireuen, dan Aceh Tengah menjadi agenda mendesak, bersamaan dengan penanganan tanah amblas di Aceh Tengah serta normalisasi sungai di Nagan Raya guna memastikan aktivitas masyarakat kembali normal sepenuhnya.
Baca Juga: Program SESAMA Pertamina, Bangkitkan Asa Anak-Anak Terdampak Bencana Sumatera
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.