ASEAN akan terus mengawal pelaksanaan rencana perdamaian, tidak hanya melalui pertemuan tingkat tinggi, tetapi juga dengan mengirim tim lapangan untuk memantau realisasi bantuan pangan, medis, dan bahan pokok.
Keputusan perpanjangan ini membuka peluang bagi lembaga PBB dan NGO internasional untuk bekerja sama lebih erat.
Meski gencatan senjata diperpanjang, tantangan besar masih menghadang, seperti akses ke wilayah terpencil, kerusakan infrastruktur, serta kekhawatiran akan gangguan militer mendadak. Namun, momentum ini bisa menjadi pintu masuk bagi ASEAN mengintensifkan peran regionalnya.
Para pemimpin etnis besar, seperti Karen National Union, menuntut pengakuan resmi dan keterlibatan langsung agar suara masyarakat lokal terdengar. Jika dialog terus dipupuk, peluang tercapainya pemilu inklusif pada Desember mendatang akan semakin nyata.[dit]











